Benzema memutuskan untuk meninggalkan Al-Ittihad setelah dikabarkan tidak puas dengan tawaran kontrak baru yang diajukan oleh manajemen klub. Namun, proses kepindahannya dinilai tidak etis oleh publik Jeddah.
Mohammed Noor mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara Benzema menangani negosiasi. Menurut Noor, Benzema terkesan mengulur waktu demi memuluskan langkahnya menuju Al-Hilal tanpa sepengetahuan petinggi Al-Ittihad.
"Kontrak Karim Benzema akan berakhir pada 30 Juni 2026, dan dia menerima dua tawaran dari Al-Ittihad untuk memperbarui kontraknya, tetapi dia menunda-nunda," ujar Noor dalam sebuah pernyataan resmi.
Noor menambahkan bahwa Benzema telah menjalin komunikasi rahasia dengan pihak Al-Hilal sebelum kontraknya benar-benar tuntas.
"Benzema sudah mencapai kesepakatan dengan Al-Hilal tanpa sepengetahuan dewan direksi Al-Ittihad. Kemudian dia menekan manajemen klub yang telah memberikan tawaran kepadanya, tetapi dia tidak merespons karena sudah sepakat dengan dewan direksi Al-Hilal," lanjutnya.
Kritik Terkait Rasa Hormat kepada Penggemar
Selain masalah negosiasi, Noor juga menyoroti sikap Benzema yang dianggap tidak menghargai dukungan para penggemar Al-Ittihad selama ia berseragam klub tersebut. Kepindahan yang terkesan mendadak dan penuh tekanan ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap loyalitas suporter.
"Dia mencapai kesepakatan dengan Al-Hilal dan keluar dengan cara yang buruk dari Al-Ittihad. Bukankah para penggemar yang mendukungnya dan menyanyikan namanya selama ini layak mendapatkan ucapan terima kasih sebelum dia pergi?" tanya Noor dengan nada kecewa.
Menutup pernyataannya, Noor menegaskan bahwa kehilangan sosok Benzema bukanlah kerugian besar bagi klub, melainkan kerugian bagi sang pemain itu sendiri karena meninggalkan warisan (legacy) yang buruk di Al-Ittihad.
“Dia yang kalah, bukan Al-Ittihad,” pungkasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post