LombokPost-- Media sosial (medsos) saat ini telah menjelma menjadi motor penggerak utama dalam industri kuliner.
Salah satu sosok yang konsisten menggerakkan tren ini adalah Kanya Pratiwi, kreator konten di balik akun populer Chillin Lombok.
Lewat gaya penyampaian yang khas memadukan humor segar dan selipan bahasa Sasak, Chillin Lombok berhasil memikat hati puluhan ribu pengikut.
Berdasarkan pantauan terkini, akun Instagram @chillinlombok telah menyentuh 21,7 ribu pengikut. Sedangkan di platform TikTok, angka pengikutnya melonjak drastis hingga mencapai 95,6 ribu.
Baca Juga: Mengenal Sosok Penjemput Mimpi Pelajar Berprestasi Imam Santoso, Sosok Dosen ITB Juga Konten Kreator
Saat ditemui, Kanya mengungkapkan dalam menentukan tempat yang akan diulas, ia memiliki intuisi tersendiri.
Sebagian besar penonton cenderung menyukai tempat yang memiliki nilai estetika tinggi atau tempat yang baru saja resmi dibuka.
“Biasanya itu tempat yang estetik atau tempat yang baru buka,” kata Kanya, Jumat (22/5).
Meski begitu, Kanya menambahkan, keunikan visual bukanlah satu-satunya daya tarik.
Tempat-tempat yang memiliki rekam jejak panjang atau berstatus kuliner legendaris juga selalu berhasil menarik perhatian netizen Lombok.
Ia mencontohkan beberapa kuliner lokal yang sudah memiliki nama besar.
“Biasanya kita itu pengen review sebuah tempat tuh kalau tempatnya itu unik. Misalnya dari makanannya, atau enggak dari look tempatnya, atau enggak tempat itu memang legend. Contohnya kayak misalnya Warung Yahanu, warung mi pedas itu kan, atau enggak Pecel Cum,” tambahnya.
Dalam industri kreatif digital, estetika visual sering kali menjadi pintu masuk utama bagi penonton untuk menaruh minat.
Namun, bagi Kanya, daya tarik makanan tidak melulu soal latar belakang tempat yang indah, melainkan bagaimana makanan tersebut ditampilkan di depan kamera sehingga mampu menggugah selera penonton secara instan.
“Penampilan makanan itu penting. Bukan estetik sih, tapi lebih ke menggiurkan. Biasanya lebih menarik dan lebih pengen orang beli dan menonton kalau tampilannya itu merah, terus menggiurkan, kayak pedas-pedas gitu,” jelasnya.
Baca Juga: Ketika Kreator Konten Menilik Dapur MotoGP di Sirkuit Mandalika
Menariknya, jam terbang yang tinggi dalam mencicipi berbagai hidangan di Lombok membuat Kanya memiliki naluri atau feeling yang kuat terhadap potensi sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sering kali, sesaat setelah menginjakkan kaki di sebuah warung atau restoran, ia sudah bisa memprediksi apakah tempat tersebut akan meledak di pasaran atau tidak.
“Karena kita udah sering jalan-jalan, makan, dan mencicipi, biasanya kita tuh punya feeling sama suatu tempat. Jadi, wah, nih bakal ramai sih pasti, karena tempatnya bagus, servicenya oke, makanannya enak, pasti ramai deh ini,” terangnya.
Sebaliknya, naluri tersebut juga berlaku untuk melihat ketidaksiapan sebuah gerai kuliner.
Kanya kerap melihat ada pelaku usaha yang belum siap menghadapi lonjakan pengunjung, baik dari segi kesiapan pelataran gerai maupun kecepatan pelayanan.
Puncak dari tren kuliner berbasis media sosial adalah ketika sebuah tempat makan mendadak viral dan diserbu pembeli yang rela mengantre berjam-jam akibat rasa penasaran atau takut tertinggal tren FOMO arau Fear of Missing Out.
Baca Juga: Ketika Perang Menjadi Konten: Sinyal Matinya Nurani di Era Donald Trump dan Gen Z
Meski demikian, viral di media sosial ibarat pisau bermata dua.
Tantangan sesungguhnya bagi pemilik warung adalah bagaimana mempertahankan kualitas setelah masa viral tersebut.
Kanya menyoroti banyaknya pelaku usaha yang gagap mempertahankan kualitas masakan dan pelayanan ketika volume pembeli melonjak drastis.
Berubahnya rasa makanan atau melambatnya pelayanan sering kali membuat pembeli enggan untuk kembali lagi.
“Masalahnya, biasanya dia enggak bisa mempertahankan kualitas makanannya. Servicenya kurang bagus biasanya kayak gitu. Jadi enggak bikin orang mau balik lagi,” kritiknya.
Ia menceritakan pengalamannya menemukan tempat makan yang awalnya menyajikan hidangan lezat dan cepat saat pengunjung masih sepi.
Namun, ketika tempat tersebut mulai didatangi hingga 20 orang sekaligus, kualitasnya langsung merosot drastis karena sistem dapur yang belum matang.
Bagi Kanya, kunci agar usaha tetap bertahan setelah dipromosikan oleh pembuat konten adalah konsistensi rasa dan pelayanan.
Terkait strategi pemasaran, Kanya menilai metode konvensional seperti penyebaran brosur fisik atau pemasangan baliho besar sudah kurang efektif dan efisien bagi UMKM kuliner saat ini, terutama mengingat modalnya yang tidak sedikit.
“Promosi brosur sih kayaknya udah enggak zaman ya, karena kan sekarang modelnya apa-apa serba online. Sama juga kayak misalnya yang dipajang di baliho yang besar gitu, itu kan budget-nya lumayan ya, Rp 5 jutaan kalau enggak salah. Dan itu pun kurang efektif buat UMKM, kecuali brand besar seperti Surya atau Matahari," paparnya.
Menurutnya, optimalisasi media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook jauh lebih menjanjikan karena algoritma digital membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi viral dan dikenal luas tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Sebagai pembuat konten kuliner, Kanya kerap dihadapkan pada situasi dilematis ketika menemukan makanan yang rasanya tidak sesuai dengan ekspektasi atau tidak seenak yang digosipkan di media sosial.
Dalam menyikapi hal ini, Chillin Lombok memilih untuk tetap mengutamakan kejujuran namun dengan penyampaian yang persuasif, halus, dan tidak menjatuhkan.
“Pernah banget menemukan kuliner yang zonk. Cara menyikapinya, ya kita explain rasanya. Biasanya aku agak halus sih bilangnya. Misalnya makanan disajikan dingin, aku bilang mungkin akan lebih mantap kalau disajikan dalam keadaan hangat. Kalau keasinan, ya dibilang mungkin yang masak lagi pengen merarik,” kekehnya.
Langkah ini diambil demi menjaga keseimbangan. Di satu sisi, ia tidak ingin memberikan informasi palsu kepada konsumen yang menjadi pengikutnya.
Di sisi lain, ia juga berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan usaha pelaku UMKM agar tidak bangkrut akibat ulasan yang terlalu destruktif.
Bahkan, tak jarang ia memberikan masukan secara langsung kepada pemilik warung di belakang kamera sebagai bentuk dukungan moril bagi perkembangan kuliner lokal di Lombok.
Di tengah menjamurnya kreator konten kuliner di Lombok saat ini, persaingan digital tentu semakin ketat.
Kanya menyadari untuk tetap bertahan dan memikat penonton, ia harus memiliki ciri khas kuat yang membedakannya dengan kreator lain.
Kunci keunikan Chillin Lombok terletak pada bagaimana narasi ulasan atau voice over disampaikan dengan bumbu komedi segar yang dekat dengan kultur masyarakat lokal.
Untuk mempertahankan kualitas hiburan tersebut, Kanya mengaku terus mengasah kemampuannya dengan memperkaya referensi komedi sehari-hari.
“Sekarang kan makin banyak banget (kreator), harus makin banyak cari literasi sih, kayak nonton. Kalau saya sih biasanya suka nonton stand-up comedy, saya suka nonton yang lawak-lawak kayak gitu sih, supaya nambah referensi jokes aja,” tambahnya.
Bagi perempuan ramah ini, selera humor yang orisinal adalah identitas terkuat sebuah akun ulasan makanan.
“Soalnya biasanya menurut saya sih, yang membedakan kita dengan yang lain itu salah satunya ya cara kita bercanda,”imbuhnya.
Editor : Kimda Farida