Ahmad Chaero Saikhu memanfaatkan sisa air wudhu para siswa tidak lagi terbuang sia-sia.
Sisa air wudhu, berubah menjadi energi listrik penopang aktivitas sekolah.
Inovasi sederhana berbasis limbah paralon ini tak hanya menyulut antusiasme belajar sains, tetapi juga membuka ruang masa depan bagi kemandirian energi dari sudut ibadah.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Sisa air wudhu mengalir di selasar musala SMPN 16 Mataram siang itu.
Di salah satu sudut ruang laboratorium, seorang pria berseragam putih dengan lencana abdi negara tampak sibuk mengutak-atik sebuah rangkaian kayu.
Ia adalah Ahmad Chaero Saikhu, guru Fisika yang melahirkan ide menarik.
“Kami melihat air wudhu siswa itu terbuang sia-sia. Bukan hanya siswa sebenarnya, kita juga di rumah atau di masjid sering melewatkannya begitu saja,” kata Chaero.
Baca Juga: SMPN 16 Mataram Siapkan 120 Siswa Hadapi TKA, Ujian Digelar Bergelombang
Terlihat, alat rangka utamanya terbuat dari susunan kayu pembatas setinggi sekitar 40 sentimeter, membingkai turbin berwarna putih bersih yang rupanya memanfaatkan potongan pipa paralon bekas yang dibelah dua.
Dengan penuh ketelatenan, Chaero menunjukkan cara kerja mekanis alat tersebut. Ketika baling-baling paralon itu disentuh dan diputar, sebuah karet dinamo hitam yang terhubung langsung pada poros roda ikut berputar dengan presisi.
Gesekan dinamo inilah yang mengubah energi kinetik dari aliran air menjadi energi listrik, mengalirkan daya menuju lampu LED kecil yang langsung berpijar terang.
Menurutnya, kegunaan pertama inovasi ini adalah menerapkan teori Fisika yang sering kali dianggap abstrak oleh para siswa.
“Siswa itu sangat kesulitan saat membayangkan atau membuat gambaran tentang materi yang dipelajari dengan kenyataan di lapangan. Kami membuat alat ini supaya materi listrik magnet kelas 9 terasa lebih riil,” terangnya.
Air bekas wudhu ditampung terlebih dahulu ke dalam ember penampungan sebelum dialirkan ke ember utama tempat turbin berada. Debit air disesuaikan sedemikian rupa agar putaran turbin stabil dan menghasilkan tegangan berkisar antara 40 hingga 60 watt. Aliran arus listrik sebesar 0,8 ampere tersebut kemudian disimpan ke dalam sebuah power bank berkapasitas 10.000 mAh.
Baca Juga: SMPN 16 Mataram Perketat Persiapan TKA, Fokus Literasi dan Numerasi
Meski dalam sehari, dengan memperhitungkan ibadah salat Zuhur berjamaah daya bersih yang dihasilkan berkisar 1,4 watt akibat adanya faktor reduksi efisiensi alat, namun timbunan daya di dalam power bank tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mikro sekolah.
Mulai dari mengisi daya gawai, menghidupkan kipas angin portabel milik siswa, menyalakan pompa air kelas, hingga menggerakkan alat penyiram tanaman otomatis yang airnya juga bersumber dari limbah wudhu.
Dengan perkiraan anggaran pembuatan di bawah satu juta rupiah, Chaero mengaku tantangan terbesar justru ada pada biaya riset dan proses bongkar pasang komponen demi mencari efisiensi terbaik. Saat ini, setelah resmi diimplementasikan sejak awal tahun ajaran 2025/2026, ia menggantungkan harapan besar pada alat ini di ajang lomba inovasi daerah tahun 2026. Namun di atas segalanya, Chaero juga berharap lebih besar dari sekadar piala.
“Siswa kami banyak. Siapa tahu besok mereka menjadi pengurus masjid dan bisa memanfaatkan sistem ini dalam skala yang lebih besar," harapnya.
Dirinya juga ingin menghilangkan momok, mata pelajaran IPA itu sulit dan penuh rumus. Ingin memperlihatkan, kalau belajar sains itu menyenangkan.
Editor : Kimda Farida