Ditengah kondisi perekonomian yang sedang melemah, tren warga yang menjual perhiasan emas di Pasar Kebon Roek, mengalami lonjakan tajam hingga mendominasi transaksi pasar sebesar 70 persen.
Fenomena ini dipicu oleh desakan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Tekanan ekonomi yang kian berat tampaknya mulai memaksa sebagian besar masyarakat di Kota Mataram untuk memutar otak demi mempertahankan isi dapur mereka.
Salah satu langkah cepat yang kini banyak diambil oleh warga adalah dengan melepas aset berharga mereka, khususnya perhiasan emas, untuk ditukarkan dengan uang tunai siap pakai.
Kondisi ini terlihat jelas dari aktivitas perdagangan di beberapa toko emas yang berada di kawasan Pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram.
Transaksi jual-beli emas di pasar tradisional tersebut saat ini justru didominasi oleh warga yang datang untuk menjual perhiasan mereka, alih-alih membeli yang baru.
Awan, salah seorang pedagang sekaligus pemilik toko emas di Pasar Kebon Roek, mengungkapkan pergeseran tren transaksi ini sudah berlangsung cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyebutkan, perbandingan antara masyarakat yang menjual emas dengan yang membeli perhiasan kini menjadi sangat timpang di tokonya.
“Kalau untuk sekarang, perbandingannya jauh sekali. Sekitar 60 sampai 70 persen dari total masyarakat yang datang ke toko itu tujuannya adalah untuk menjual emas mereka. Perhiasan yang dijual pun beragam, mulai dari gelang, kalung, hingga cincin,” ujar Awan saat ditemui langsung di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan.
Menurut analisis Awan, ada dua faktor utama yang mendorong masyarakat berbondong-bondong melepas kepemilikan emas mereka saat ini.
Faktor pertama adalah karena masyarakat merasa tergiur dengan angka nominal harga emas yang saat ini sedang berada di tingkat yang cukup tinggi.
Masyarakat merasa diuntungkan karena mereka bisa mendapatkan jumlah uang tunai yang jauh lebih banyak dibandingkan pada saat mereka membelinya beberapa tahun lalu.
Namun, di sisi lain, Awan tidak menampik motif utama di balik aksi jual massal ini adalah desakan ekonomi akibat melemahnya daya beli dan kondisi finansial yang sulit.
Emas dinilai sebagai aset yang paling likuid dan paling mudah dicairkan secara cepat ketika sebuah keluarga membutuhkan dana segar untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari atau biaya mendesak lainnya.
“Sebagian besar memang karena tergiur nilai nominalnya yang besar, merasa diuntungkan kalau dijual sekarang. Tetapi ya faktanya memang jatuhnya sama saja sebenarnya, karena harga-harga barang kebutuhan yang lain juga ikut naik. Istilahnya, harga emas ini kan sebenarnya hanya mengikuti arus inflasi saja,” jelas pria menjual emas di Pasar Kebon Roek sejak tahun 2004 silam.
Lebih lanjut, Awan memaparkan harga emas batangan jenis Antam memang sempat mengalami penurunan fluktuatif belakangan ini.
Meski demikian, untuk harga emas perhiasan berkadar 22 karat yang paling populer di kalangan masyarakat umum, harganya relatif bertahan stagnan di angka Rp 2.550.000 per gram.
Harga tersebut menurutnya sudah mencakup akumulasi biaya ongkos pembuatan perhiasan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Lagi, Cek Rincian Harganya Sebelum Borong!
“Kalau harga pasarannya sendiri untuk emas 22 karat tanpa ongkos bikin itu sebenarnya berkisar di angka Rp 2.100.000 per gram. Tapi kalau sudah jadi perhiasan dan dijual di toko seperti ini, harganya Rp 2.550.000 karena sudah sekalian dihitung biaya pembuatannya,” tambahnya.
Jika dibandingkan dengan periode awal tahun atau tepatnya sebelum momen bulan suci Ramadan lalu, harga emas perhiasan memang sempat menyentuh angka tertinggi di kisaran Rp 2.700.000 per gram.
Penurunan harga yang terjadi saat ini dinilai wajar dalam siklus pasar modal dan perdagangan komoditas baku.
Ironisnya, di saat arus warga yang menjual emas terus mengalir deras, kondisi sebaliknya justru terjadi pada angka pembelian.
Awan mengeluhkan, penjualan perhiasan emas baru di tokonya kini sedang mengalami penurunan drastis alias sepi peminat.
Sebagian besar masyarakat cenderung menahan diri untuk tidak membeli barang sekunder karena mahalnya harga komoditas tersebut.
“Kondisi pasar untuk yang beli sekarang bisa dibilang agak sepi. Ya, karena masyarakat merasa harganya terlalu mahal untuk dibeli sekarang, jadi mereka lebih memilih memprioritaskan uangnya untuk keperluan yang lain yang lebih penting,” pungkasnya.
Nur, seorang ibu rumah tangga asal Mataram, mengaku terpaksa mendatangi toko emas untuk mencairkan perhiasannya demi mencukupi kebutuhan pendidikan sang buah hati.
“Saya terpaksa menjual perhiasan ini untuk menutup biaya sekolah anak. Dari penjualan ini, saya dapat uang tunai Rp3,6 juta. Kalau diingat-ingat, harganya tidak jauh berbeda dengan waktu saya beli sekitar lima bulan yang lalu,” kata Nur.
Editor : Kimda Farida