Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjaga Sorot Klasik tanpa Harus Menyilaukan Sesama

Chia • Senin, 22 Juni 2026 | 13:16 WIB

 

ORISINALITAS YANG MEMIKAT: Imam saat menunjukkan mobil antik kesayangannya, VW Variant tahun 1964 berkapasitas 1600 cc dengan lampu depan bawaan pabrik.
ORISINALITAS YANG MEMIKAT: Imam saat menunjukkan mobil antik kesayangannya, VW Variant tahun 1964 berkapasitas 1600 cc dengan lampu depan bawaan pabrik.

 
Di tengah demam modifikasi lampu LED yang menyilaukan jalanan, seorang ASN Kota Mataram memilih mempertahankan lampu bawaan pabrik demi keselamatan sesama pengguna jalan dan jiwa klasik kendaraannya.

SANCHIA VANEKA, Mataram

Pendar cahaya kuning temaram keluar dari sepasang lampu bulat sebuah Volkswagen (VW) Variant lansiran tahun 1964. Ia tidak memotong malam dengan kejam, melainkan memeluknya dengan kehangatan khas era paro abad silam. Di samping kemudi mobil antik tersebut, berdiri sang pemilik, Imam.


Baginya, mempertahankan orisinalitas lampu kendaraan bukan sekadar urusan merawat barang tua. Ini adalah pilihan prinsip, sebuah bentuk perlawanan di tengah gempuran tren modifikasi lampu modern bermaterialkan LED (Light Emitting Diode) maupun biled projector yang kini tengah digandrungi.


“Kalau mau terang benderang, solusinya memang ganti headlamp modern. Tapi saya lebih memilih mempertahankan aslinya, yang original bawaan pabrik,” kata ASN di Pemkot Mataram itu sembari menyeka bodi mobil lawasnya.

Baca Juga: Meriah, OTO Show Mobil Listrik BSI di Kantor Gubernur NTB Catatkan Penjualan 36 Unit

Di dalam garasinya, Imam mengoleksi empat unit mobil dengan karakter yang berbeda-beda, mulai dari Toyota Kijang Kapsul, dua unit Suzuki Vitara, hingga sang legenda jalanan VW Variant 1964. Selain kendaraan roda empat, sebuah Vespa klasik bernuansa retro juga terparkir rapi menjadi pelengkap koleksinya.


Menurut Imam, tren modifikasi lampu di kalangan komunitas otomotif saat ini sudah sangat masif. Banyak rekan sejawatnya di Kijang Kapsul Club Indonesia (KKCI) Lombok maupun komunitas lain yang merasa tidak puas jika belum mengganti bohlam standar mereka dengan LED generasi terbaru. 


Namun, Imam bergeming dari godaan tersebut. Alasan utama ia enggan mengutak-atik sistem pencahayaan utama kendaraannya adalah kenyamanan jangka panjang dan ketakutan akan risiko teknis.


“Saya malas kalau nanti ada kendala korsleting atau masalah kelistrikan lainnya. Mengikuti standar bawaan pabrik terasa jauh lebih aman dan tenang,” jelasnya.


Selain faktor teknis, Imam menyoroti aspek fungsionalitas yang sering kali terabaikan oleh para pencinta lampu putih nan terang.

Penggunaan lampu tipe biled putih memang memberikan visibilitas yang tajam pada malam hari yang cerah. Namun, situasi akan berbalik seratus delapan puluh derajat ketika hujan lebat atau kabut tebal turun menghalangi jalan.


“Pilihan lampu pijar kuning itu sebenarnya sangat bagus saat menghadapi kabut dan hujan. Kalau pakai biled yang putih bersih, begitu diguyur hujan, cahayanya justru memantul dan jalanan malah tidak kelihatan sama sekali,” urainya.

Baca Juga: Suzuki Indonesia Bersiap Luncurkan Mobil Baru yang Disinyalir XL7 versi Facelift

Kendati kukuh menjaga keaslian headlamp utama, Imam bukan berarti anti terhadap lampu tambahan. Ia menerapkan prinsip modifikasi berbasis kebutuhan nyata (utility-driven modification).

Pada Suzuki Vitara miliknya yang sering digunakan untuk keperluan petualangan luar ruang dan camper van, ia menyematkan lampu tambahan di atas atap dan bumper depan.


Lampu tambahan tersebut murni berfungsi sebagai perangkat pendukung saat menjelajah medan ekstrem yang minim pencahayaan alami, seperti area hutan atau pegunungan. 


Imam juga memasang lampu sorot tambahan di bagian belakang mobil. Fungsinya vital, mendeteksi keberadaan lubang atau jurang saat mobil harus bermanuver mundur di tengah kegelapan hutan.


Menariknya, kecintaan Imam pada dunia lampu tidak berhenti pada apa yang terpasang di kendaraannya.

"Kalau orang yang mau yang penting terang kan bisa tambah aksesoris lampu tambahan kan tidak apa apa,” ucapnya. 


Di sudut garasi lainnya, ia memiliki lemari pajangan khusus yang menyimpan berbagai koleksi lampu retro dan lampu reli langka buatan Jepang dan Eropa, salah satunya adalah lampu legendaris Hella Rallye 3000.

Menurutnya, hobi otomotif tidak selamanya harus tunduk pada keseragaman tren modern. 


“Kalau mau terang ya itu mementingkan keselamatan sendiri. Tapi mikir tidak keselamatan orang yang kena lampu tiba-tiba silau,” jelasnya. (*/r3)

Editor : Kimda Farida
#KOLEKSI MOBIL #SUZUKI VITARA #HOBI MOBIL KLASIK #volkswagen #Mataram