Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ngaji Filsafat di Mataram Bareng Fahruddin Faiz

Chia • Kamis, 2 Juli 2026 | 10:07 WIB
Ngaji Filsafat bareng Fahrudin Faiz
Ngaji Filsafat bareng Fahrudin Faiz

Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Mataram menggelar Ngaji Filsafat bersama Fahruddin Faiz, membedah persoalan psikologi sosial manusia modern yang kerap terjebak dalam bias algoritma digital dan polarisasi opini.

Melalui kajian ini, para mahasiswa dan masyarakat lintas elemen diajak untuk menghidupkan kembali nalar kritis, merawat tradisi berpikir merdeka, serta menumbuhkan kerendahan hati dalam mencari kebenaran sejati di era kecerdasan buatan.


---------------------

Ratusan mahasiswa lintas kampus, dosen, hingga pegiat literasi tampak terpaku pada satu sosok di depan ruang. Di bawah lampu kafe yang hangat, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Mataram berhasil mengubah tempat nongkrong menjadi sebuah wadah intelektual yang sarat akan dialektika. 

Fahruddin Faiz membedah satu pertanyaan yang kerap luput dari benak manusia modern.

“Siapa yang sedang mengendalikan pikiran kita?,” tanyanya memantik disukusi, Sabtu (27/6). 

Pada era digital yang kian bias, batasan antara opini, hoaks, dan fakta objektif sering kali mengabur. 

Mengangkat subtema “Ketika Semua Orang Merasa Paling Benar, Masih Adakah Kebenaran?”, Fahruddin Faiz langsung menembak jantung persoalan psikologi sosial masyarakat hari ini. Beliau memaparkan manusia modern sebenarnya tidak benar-benar merdeka dalam menentukan isi kepalanya.

Baca Juga: Siapa dr Tan Shot Yen? Dokter Gizi Lulusan Filsafat yang Berani 'Semprot' Program MBG di Depan DPR

“Setiap individu hidup di tengah kepungan pengaruh. Mulai dari internal keluarga, doktrin budaya, hingga gempuran media sosial dan algoritma digital yang bekerja senyap di balik layar gawai kita,” ujar sang penggagas Ngaji Filsafat tersebut.

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menekankan bagaimana algoritma media sosial telah merancang echo chamber atau ruang gema. Di ruang inilah, manusia hanya disuapi oleh informasi yang mereka sukai, yang lambat laun memupuk rasa superioritas intelektual. 

Dampaknya fatal, lahirnya generasi yang merasa paling benar, sembari menutup mata terhadap kebenaran dari sudut pandang lain.

Bagi Fahruddin, filsafat sering kali disalahpahami sebagai ilmu rumit yang menjauhkan manusia dari realitas. Padahal, di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi opini saat ini, pendekatan filsafat justru bertindak sebagai jangkar penyeimbang.

Filsafat mengajarkan manusia untuk tidak menelan mentah-mentah setiap pandangan sebagai kebenaran mutlak. Melalui pisau analisis berpikir kritis, setiap individu diajak untuk terus bertanya, merefleksikan, dan menguji keyakinan mereka dengan nalar yang sehat.

Baca Juga: UIN Mataram Lakukan Penembokan, Bupati Siap Ambil Kembali Lahan Jika Tak Dibangun

Namun, esensi utama dari berfilsafat yang ditekankan malam itu bukanlah kemahiran berdebat, melainkan lahirnya sikap rendah hati. Ketika seseorang merasa paling benar, pada saat itulah ruang dialog resmi tertutup.

Padahal, pencarian kebenaran sejati membutuhkan kelapangan dada untuk mendengarkan, memahami argumen orang lain, serta keberanian moral untuk mengoreksi diri sendiri jika ditemukan argumentasi yang lebih valid dan kuat.

Antusiasme peserta kian memuncak saat sesi tanya jawab dibuka.

Diskusi bergulir dinamis menyentuh realitas kontemporer, mulai dari fenomena polarisasi politik di ruang publik hingga tantangan mempertahankan kewarasan berpikir di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.

Menjawab keresahan tersebut, Fahruddin Faiz dengan gaya khasnya yang komunikatif, santun, dan kaya ilustrasi, memberikan jawaban filosofis yang membumi.

Beliau mengingatkan, teknologi dan AI hanyalah alat. Kendali utama atas akal budi dan kesadaran harus tetap berada di tangan manusia.

Menjaga nalar kritis di era kecerdasan buatan berarti tidak membiarkan mesin mengambil alih kemampuan manusia untuk merasa, menimbang nilai moral, dan merenung secara mendalam.

Baca Juga: Dua Tahun Keluar Masuk Komunitas Tertutup, Peneliti UIN Mataram Bongkar Fakta Mengejutkan LGBT Kota

Presiden Mahasiswa UIN Mataram Ahmad Hilman Halim, menegaskan esensi dari kehadiran Ngaji Filsafat ini adalah sebuah ikhtiar melawan pragmatisme akademik. 

“Kampus harus kembali menjadi rumah bagi lahirnya gagasan-gagasan segar, tempat di mana mahasiswa belajar mempertanyakan secara kritis sekaligus merawat etika dialog yang beradab,” ucapnya.

Editor : Kimda Farida
#DEMA UIN MATARAM #FAHRUDIN FAIZ #NGAJI FILSAFAT #uin mataram #Mataram