Berbekal resep pascamelahirkan warisan leluhur, camilan jahe gulung tradisional berhasil naik kelas ke panggung global. Kudapan sehat tanpa bahan pengawet ini kini bertransformasi menjadi produk modern yang digandrungi pasar vegetarian di Eropa hingga Selandia Baru.
SANCHIA VANEKA, Mataram
SEKILAS, benda berwarna cokelat keemasan itu tampak menyerupai cerutu kecil. Tapi, begitu menyentuh lidah, tidak ada asap yang mengepul. Yang ada justru rasa hangat, manis yang pas, dan aroma rempah segar yang langsung menjalar ke tenggorokan.
Inilah Jahe Gulung, sebuah inovasi jenius dari Kampung Ombak, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Desa Bonjeruk, Lombok Tengah. Di tangan Yosi Eka Kurniawati, jamu yang identik dengan rasa pahit dan aroma menyengat, disulap menjadi camilan premium yang dinikmati hingga ke belahan bumi lain.
Baca Juga: PKS Minta Pemkot Mataram Tak Cepat Puas Raih WTP, Soroti Sampah, SPMB hingga Lesunya UMKM
Menurutnya, sepotong jahe gulung bukan sekadar komoditas dagang. Di dalam setiap gulungannya, mengalir cerita tentang bertahan hidup dan kearifan lokal masyarakat Sasak masa lalu.
“Dulu, akses kesehatan di desa kami sangat sulit. Leluhur kami meracik ramuan herbal khusus untuk ibu-ibu pascamelahirkan agar stamina mereka cepat pulih,” katanya.
Nostalgia itulah yang memantik idenya pada tahun 2017. Yosi tidak ingin resep berharga itu punah ditelan zaman. Ia bereksperimen, meracik murni rempah-rempah alami tanpa sentuhan kimia. Hasilnya menjadi sebuah camilan bertekstur unik yang gluten-free, non-kolesterol, dan sangat ramah bagi kaum vegetarian. Sebuah segmentasi pasar yang sangat dihargai di dunia internasional.
Tanpa minyak dan tanpa pengawet buatan, jahe gulung ini mampu bertahan hingga enam bulan berkat teknik pengeringan khusus dan karamelisasi gula alami. Keunikan inilah yang membawa produk Kampung Ombak menembus pasar Singapura, Eropa, hingga rutin terbang ke Selandia Baru untuk memenuhi kerinduan komunitas Asia di sana. Sekali kirim, tak kurang dari 200 kotak mendarat di negara kiwi tersebut.
“Ya kami pernah ekspor, rutin sebelum pandemi itu,” ucapnya.
Baca Juga: CIMB Niaga Kucurkan Rp 1,3 Miliar untuk UMKM Perempuan dan Disabilitas
Perjalanan membawa nama Lombok ke kancah global tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yosi mengenang masa-masa awal di mana produknya kerap dipandang sebelah mata. Pasar lokal belum sepenuhnya siap menerima konsep jamu yang dikunyah.
Titik balik emas itu akhirnya datang pada tahun 2025. Lewat program pembinaan UMKM yang diinisiasi oleh CIMB Niaga, Kampung Ombak ibarat mendapatkan strategi baru.
“Dulu kami hanya tahu cara membuat dan menjual. Melalui pembinaan itu, kami dibimbing menyeluruh. Mulai dari manajemen keuangan, mempercantik kemasan, strategi branding, hingga membuka akses permodalan,” akunya.
Edukasi tersebut membuka matanya, jahe gulung miliknya memiliki nilai eksklusif. Kampung Ombak mulai berhenti sekadar menjual dan beralih bercerita kepada konsumen yang tepat.
“Dulu mana paham kami target market yang begini, begini. Sekarang kan jadi lebih tau,” ucapnya.
Editor : Jelo Sangaji