LombokPost - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mulai menghitung kesiapan menjelang ground breaking Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Ampenan. Meski seluruh biaya konstruksi ditanggung pusat, Pemkot harus bersiap merogoh kocek cukup dalam pasca-pembangunan.
“Kami dibebankan untuk operasional. Mereka (pemerintah pusat) yang membangun, dan kami diwajibkan menanggung operasionalnya. Estimasi dari perencanaannya itu sekitar Rp 5,4 miliar per tahun,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi.
Denny menegaskan, posisi Pemkot dalam proyek strategis ini murni sebagai penerima manfaat.
Segala urusan fisik bangunan dan penunjukan kontraktor menjadi domain penuh kementerian terkait di pusat. Namun, tanggung jawab keberlanjutan fungsi TPST sepenuhnya beralih ke daerah setelah serah terima aset dilakukan.
Baca Juga: Proyek TPST Kebon Talo Rp 87 Miliar Segera Dikerjakan
Fasilitas modern senilai Rp 97 miliar yang didanai penuh oleh pemerintah pusat tersebut, dijadwalkan memulai peletakan batu pertama pada Juli 2026 mendatang.
Denny merinci, dana jumbo Rp 5,4 miliar per tahun tersebut nantinya dialokasikan untuk membiayai seluruh kebutuhan teknis dan non-teknis di lapangan.
Komponen utama pengeluaran meliputi honorarium sumber daya manusia (SDM) atau tenaga kerja, pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk mobilitas armada dan mesin, pembayaran rekening listrik, hingga pemeliharaan komponen pendukung lainnya.
“Pokoknya semua anggaran untuk operasional itu kami yang tanggung. Daerah harus siap agar investasi besar dari pusat ini tidak mangkrak,” imbuhnya.
Pantauan di lapangan, persiapan fisik di lokasi sudah mulai terlihat. Saat ini, tahapan yang sedang berjalan adalah pemagaran lahan seluas 1,4 hektare di kawasan Kebon Talo. Ketika disinggung mengenai detail pemenang tender atau pelaksana proyek, Denny mengaku tidak mengetahuinya secara pasti.
“Kami tidak tahu siapa yang memegang proyek ini karena semua kewenangan ada di pusat,” sebutnya.
Keberadaan TPST Kebon Talo diproyeksikan menjadi solusi jitu mengatasi darurat sampah di Kota Mataram. Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan yang cukup masif, yakni mencapai 60 ton sampah per hari.
Dengan daya tampung sebesar itu, volume pembuangan sampah harian dari Kota Mataram ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok di Lombok Barat dipastikan bakal merosot tajam.
Baca Juga: Proyek Rp 97 Miliar TPST Kebon Talo Mulai Dibangun Juni
Menariknya, TPST Kebon Talo tidak sekadar memilah sampah, melainkan mengolahnya menjadi bernilai ekonomi. Sampah yang masuk akan diproses menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif. Pemkot bahkan sudah melirik peluang pasar untuk hasil produksi ini.
“Komunikasi kami dengan pihak PLN sejauh ini baik untuk pemasaran briket tersebut," tambahnya.
Jika dikomparasikan dengan fasilitas eksisting, beban operasional TPST Kebon Talo memang jauh lebih tinggi. Sebagai perbandingan, TPST Sandubaya saat ini hanya menghabiskan biaya operasional sekitar Rp 1,4 miliar per tahun. Namun, kapasitas pengolahannya juga lebih kecil, yakni sekitar 45 ton sampah per hari.
“Kalau di TPST Sandubaya kapasitasnya berkisar 45 ton sehari, makanya biayanya berbeda,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida