LombokPost - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mencatat capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi persampahan pada semester pertama tahun 2026 ini baru menyentuh angka 34 persen. Angka tersebut dinilai masih cukup jauh dari target yang telah ditetapkan untuk tahun ini.
“Per semester ini kami di angka 34 persen atau Rp 4,25 miliar,” kata Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi.
Meskipun capaian pada paruh pertama tahun ini baru 34 persen, Denny mengaku tetap optimistis target PAD dari sektor kebersihan dapat terealisasi optimal di akhir tahun. Pihaknya menargetkan total capaian bisa menyentuh angka 60 hingga 65 persen pada akhir tahun 2026.
“Dari target total Rp 12,5 miliar, kami optimis bisa meraup sekitar Rp 7 miliar hingga Rp 7,5 miliar. Jika ini terealisasi, artinya ada peningkatan sekitar Rp 1 miliar dibandingkan capaian tahun lalu,” pungkasnya.
Baca Juga: Lapak di Destinasi Wisata Banyak Kosong, PAD Pariwisata Mataram Seret
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, DLH kini gencar melakukan berbagai langkah inovatif, termasuk membidik potensi retribusi baru di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Udayana. Perluasan kerja sama dengan pihak ketiga juga menjadi strategi untuk mendongkrak capaian yang masih minim tersebut.
“Sekarang di CFD itu, kami tarik retribusi pelayanan persampahan. Selama ini memang tidak pernah ditarik retribusi kebersihan di sana. Kami hanya membersihkan sampah setiap minggu, tetapi tidak pernah ada kontribusi yang diberikan oleh PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berjualan di situ,” terangnya.
Denny menjelaskan, tarif retribusi yang dikenakan kepada para pedagang di area CFD sebesar Rp 5 ribu dengan sekitar ratusan PKL yang ada. Menurutnya, nominal tersebut sangat terjangkau dan tidak akan memberatkan para pelaku usaha, mengingat volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas CFD Udayana selalu melimpah setiap minggunya. Langkah ini juga diambil sebagai bentuk perhatian terhadap para petugas kebersihan yang bekerja ekstra pasca-kegiatan CFD.
“Tidak ditarik retribusi pun, setiap minggu sampah di CFD itu tetap kami angkut. Makanya kan kasihan juga petugas kita, insentif mereka tidak ada kenaikan,” tambahnya.
Selain menyasar CFD, DLH juga terus memperluas kerja sama dengan sektor formal melalui skema Memorandum of Understanding (MoU). Hingga Juli 2026, DLH mencatat telah menjalin kerja sama dengan 53 mitra yang terdiri dari perhotelan, tempat usaha, sekolah, hingga universitas. Jumlah ini meningkat dibandingkan dua bulan lalu yang baru mencapai 49 mitra. Nilai retribusi dari kerja sama ini bervariasi, dihitung berdasarkan rumus dan kesepakatan frekuensi pengangkutan sampah mulai dari satu hingga lima kali seminggu.
“Nanti itu ada pembagiannya antara pihak ketiga dan yang masuk sebagai retribusi,” jelasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kota Mataram Lalu Alwan Basri, mengatakan capaian PAD dari sektor retribusi yang masih berada pada kisaran 30 hingga 40 persen menjadi perhatian serius Pemkot. Menurutnya, OPD harus segera melakukan berbagai langkah percepatan agar realisasi pendapatan minimal melampaui 50 persen.
“Ini yang kami tekankan kepada teman-teman OPD yang rata-rata capaiannya baru 30 sampai 40 persen. Mereka harus lebih inovatif dan kreatif agar pencapaiannya segera meningkat,“ katanya.
Berdasarkan data realisasi PAD hingga Juni 2026, DLH baru merealisasikan sekitar 34 persen atau sebesar Rp 4,25 miliar dari target Rp 12,5 miliar. Dinas Pariwisata mencatat realisasi sekitar Rp 200 juta dari target Rp 800 juta.
Sementara itu, Dinas Perhubungan mencapai realisasi sekitar Rp 5 miliar dari target Rp 18,5 miliar. Adapun Dinas Perdagangan menjadi OPD dengan capaian terendah, yakni sekitar 17 persen dari target PAD sebesar Rp 8,2 miliar.
Editor : Kimda Farida