Suasana lapak bendera musiman di sepanjang bahu jalan Kota Mataram menjelang peringatan HUT ke-81 RI terasa jauh lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Penjualan pernak-pernik kemerdekaan merosot hingga separuh dari biasanya akibat daya beli masyarakat yang kian lesu.
----------------
Deretan kain merah putih dan umbul-umbul warna-warni melambai ditiup angin di sepanjang tepi jalan Kota Mataram.
Gambar garuda dan hiasan background kemerdekaan tampak berjejer rapi di atas tiang-tiang bambu, menanti pembeli yang tak kunjung singgah.
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang, atmosfer kemeriahan yang biasa diwarnai riuh transaksi jual beli pernak-pernik kemerdekaan kini terasa jauh lebih dingin.
Di balik helai bendera yang terpampang, raut cemas tak bisa disembunyikan para pedagang musiman. Salah satunya Wahyu, pria asal Bandung yang telah melakoni profesi berjualan bendera di Mataram setiap memasuki bulan Agustus.
Musim ini genap 12 tahun dirinya setia merantau menyeberangi pulau hanya untuk mengadu nasib menjajakan lambang negara. Namun, Wahyu mengakui musim kali ini merupakan periode terberat sepanjang belasan tahun pengalamannya.
“Sekarang mah agak kurang, tidak seperti tahun kemarin. Biasanya sudah lumayan banyak yang laku, tapi sekarang menurun drastis, ada lah separuhnya atau 50 persen dari tahun lalu,” kata Wahyu yang berjualan di bahu jalan bundaran Mataram Metro kemarin (11/8).
Baca Juga: Pemprov NTB dan Pemkot Mataram Gelar Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih
Ia sudah menggelar dagangannya sejak 29 Juli lalu dan berencana bertahan hingga H-1 kemerdekaan sebelum kembali ke Tanah Pasundan.
Menurut Wahyu, kelesuan ini bukan dipicu oleh kenaikan harga bendera, melainkan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menghimpit.
Harga jual benderanya masih dipatok stabil pada kisaran Rp 25 ribu, Rp 35 ribu, hingga Rp 45 ribu tergantung ukuran dan jenis barang, mulai dari bendera standar, umbul-umbul, hingga tirai perhiasan.
“Harga mah sebenarnya tetap seperti tahun-tahun kemarin. Cuma yang beli saja kurang. Mungkin pengaruh ekonomi lagi susah, cari uang lagi berat,” tambahnya merenung.
Biasanya, yang membeli dagangannya dari para pihak pemerintah desa (pemdes) sampai warga yang ingin menyemarakkan kemerdekaan.
Tapi dari informasi yang didengarnya, kucuran anggaran untuk pembelian bendera sudah tidak ada lagi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dianggarkan banyak.
“Katanya teh gitu,” ucapnya.
Keluhan serupa dilontarkan oleh Is, pedagang bendera musiman lokal depan Puskesmas Pagesangan yang sudah empat hingga lima tahun terakhir setia mengadu peruntungan di bahu jalan Mataram.
Pria yang telah membentang lapaknya selama dua minggu sejak 27 Juli ini menyebutkan penurunan jumlah pembeli terasa sangat signifikan. Jika tahun-tahun sebelumnya permintaan mengalir lancar, kini sepi seolah menjadi kawan setia sehari-hari.
“Sepi sekarang. Bahkan pernah dalam seminggu itu sepi sekali, sehari cuma laku satu atau dua lembar saja, malah sempat tidak ada pembeli,” ungkap Is sembari menatap lalu lalang kendaraan.
Baca Juga: Sambut HUT RI Ke-81, Srikandi PLN NTB Salurkan Bantuan Modal Usaha untuk UMKM Perempuan di Kota Bima
Ia menambahkan, pembeli yang datang saat ini didominasi oleh perorangan untuk kebutuhan rumah tangga. Langganan dari kalangan perkantoran atau instansi yang biasa memesan dalam jumlah besar kini nyaris tak terlihat.
Mendekati sepekan menuju puncak peringatan 17 Agustus, harapan para pedagang kecil ini hanya satu, ketukan pengendara yang menepi untuk membeli sehelai bendera.
“Ya mungkin juga pada lagi seret ya,” katanya terkekeh.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan