LombokPost - Pengerjaan proyek Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) di Kota Mataram mulai memicu gelombang keluhan dan kebingungan warga.
Sosialisasi teknis ke pemukiman penduduk dinilai masih minim detail hingga membuat masyarakat cemas.
“Kita tidak menolak, tapi masih bertanya-tanya. Namanya juga ini yang pertama,” kata Wahyu, salah satu warga Taman Sari, Ampenan.
Wahyu mengaku rumahnya sudah didatangi petugas proyek bersama RT setempat untuk mengukur area bangunan, namun detail pengerjaan tidak dijelaskan secara pasti. Ia risau karena posisi toilet rumahnya berada di bagian paling belakang, sementara saluran utama berada di depan.
“WC saya paling belakang, masa mau ditarik ke depan? Berarti keramik dan tembok rumah harus dibobol dari belakang sampai depan. Kalau dibobol, apa ada keramik pengganti yang speknya sama? Jangan sampai cuma diganti sepetak belang dong," tegasnya.
Baca Juga: Toko Terdampak Proyek SPALDT Mataram Dapat Ganti Rugi, Ini Syarat dan Mekanismenya
Selain pembongkaran rumah, warga juga mengeluhkan dampak kemacetan di jalan raya. Penggalian lubang besar (shaft) di Jalan Industri tepat depan SMA Hang Tuah memberlakukan sistem buka-tutup jalan yang kerap memicu antrean kendaraan panjang.
Warga mengharapkan pihak pelaksana maupun Pemkot Mataram segera menggelar sosialisasi yang lebih masif dan transparan agar pelaksanaan proyek tidak menimbulkan kegaduhan.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan