LombokPost – Cuaca panas dan terik matahari belakangan mulai terasa menyengat di Kota Mataram. Kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang masih berlangsung dan dominasi kondisi atmosfer kering di wilayah Nusa Tenggara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, panas yang dirasakan masyarakat berkaitan dengan minimnya tutupan awan selama periode kemarau. Kondisi atmosfer yang kering membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
Dalam prospek cuaca periode 18–24 September 2026, BMKG menyebut fenomena El Niño kategori sangat kuat yang berlangsung bersamaan dengan musim kemarau menghasilkan atmosfer yang lebih kering, tutupan awan minim, serta peningkatan suhu permukaan.
Kondisi tersebut juga membuat sebagian wilayah Indonesia bagian selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) panjang, termasuk Bali dan Nusa Tenggara.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) sebelumnya juga menjelaskan kondisi serupa. Pada periode kemarau, massa udara kering dari Belahan Bumi Selatan (BBS) menyebabkan pertumbuhan awan berkurang.
Baca Juga: Perbaikan Jalan dan Wisata Mangrove di Sekotong Tengah Tertunda
Minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak langsung mencapai permukaan. Inilah yang membuat udara pada siang hari terasa lebih panas dan terik.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan Mataram sedang mengalami suhu ekstrem. Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi ZAM, suhu maksimum Kota Mataram pada 22–30 September berada di kisaran 27 hingga 31 derajat Celsius.
Pada Rabu (23/9), misalnya, suhu maksimum diprakirakan mencapai 31 derajat Celsius. Suhu maksimum yang sama juga diprakirakan terjadi pada Minggu (27/9).
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi dampak cuaca panas dan udara kering. Warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari diminta mengurangi paparan langsung sinar matahari, menggunakan perlindungan seperti tabir surya, serta menjaga kecukupan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi dan kelelahan.
Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengingatkan warga tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
Baca Juga: Polresta Lombok Tengah Cegah Karhutla di Mandalika
BPBD Mataram Turunkan Personel
Kondisi kemarau tersebut juga mendapat perhatian Pemerintah Kota Mataram melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
BPBD Kota Mataram sejak beberapa hari terakhir meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait antisipasi dampak musim kemarau. Sebanyak 25 personel diterjunkan setiap hari secara bergantian untuk menyasar sejumlah lokasi keramaian.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Budi Wartono mengatakan, sosialisasi dilakukan di pasar tradisional, pusat perbelanjaan, permukiman padat penduduk, kawasan pertokoan hingga area pergudangan.
“Setiap hari kami menerjunkan 25 personel secara bergantian,” kata Budi, Senin (21/9).
Selain memberikan edukasi, petugas membagikan selebaran imbauan kepada masyarakat. BPBD juga meningkatkan patroli pada sejumlah kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran, termasuk lahan persawahan.
Baca Juga: Kisah Nursihan, Perajin Keranjang Bambu di Desa Lando
Masyarakat diingatkan tidak membakar sampah maupun jerami sembarangan. Sumber api juga diminta tidak ditinggalkan tanpa pengawasan.
Meski kemarau cukup terasa, BPBD Kota Mataram menyebut belum menerima laporan kekeringan ekstrem yang sampai mengganggu kebutuhan air harian masyarakat. Namun, penurunan debit air mulai terjadi pada sejumlah saluran irigasi dan kolam budidaya ikan akibat berkurangnya pasokan air dari wilayah hulu.
Di sisi lain, kondisi Kota Mataram relatif berbeda dibanding sejumlah wilayah NTB lainnya. BMKG sebelumnya mencatat delapan kabupaten dan satu kota di NTB masuk status awas kekeringan meteorologis pada periode tertentu, sementara Kota Mataram tidak termasuk di dalamnya.
Peluang hujan di sebagian wilayah Kota Mataram juga masih terbuka. BMKG mencatat peluang hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian pada periode 11–20 September mencapai 10–40 persen di sebagian wilayah Mataram, Lombok Barat dan Sumbawa.
Namun, secara umum kemarau masih mendominasi. BMKG memperkirakan kondisi kering tetap perlu diwaspadai seiring pengaruh El Niño yang masih kuat.
Baca Juga: Persiapkan Mutasi dan Promosi, Pemkab Loteng Asesmen Pejabat Eselon II dan III
Karena itu, masyarakat Kota Mataram diminta tidak mengabaikan panas terik yang dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Selain menjaga kondisi tubuh dari paparan matahari langsung, penggunaan air secara bijak dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran menjadi bagian penting menghadapi periode kemarau.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin