LombokPost - The Velvet Sundown, band AI misterius yang tiba-tiba viral di Spotify, bikin geger para penikmat musik digital.
Hanya dalam hitungan minggu, The Velvet Sundown langsung tembus 400 ribu pendengar bulanan.
Banyak yang mulai bertanya: siapa sebenarnya The Velvet Sundown? Atau lebih tepatnya… apa mereka benar-benar ada?
Sejak kemunculannya di Spotify, The Velvet Sundown langsung mencuri perhatian. Tak tanggung-tanggung, band ini sudah merilis dua album penuh dalam waktu kurang dari sebulan.
Album pertama bertajuk Floating on Echoes dirilis 5 Juni, disusul album kedua Dust in Silence pada 20 Juni. Album ketiga mereka, Paper Sun Rebellion, bahkan sudah dijadwalkan rilis pada 14 Juli mendatang.
Dengan kecepatan rilis album yang tak lazim dan kualitas audio yang sangat rapi, kecurigaan pun mencuat: The Velvet Sundown band AI?
Netizen mulai menduga band ini bukan hasil kerja manusia, tapi buatan kecerdasan buatan (AI).
Apalagi lagu-lagu mereka sudah tembus puluhan hingga ratusan ribu pendengar.
Lagu Dust on the Wind sudah mencapai 382.766 streaming, disusul Drift Beyond the Flame dengan 144.785 pendengar.
Semua lagu lainnya juga ikut mendulang angka impresif, cukup tak masuk akal untuk band yang belum genap sebulan eksis.
Profil The Velvet Sundown di Spotify menyebut formasi fiktif: vokalis Gabe Farrow, gitaris Lennie West, bassis Milo Rains, dan perkusionis Orion ‘Rio’ Del Mar.
Tidak disebutkan dari kota atau negara mana mereka berasal. Anehnya lagi, hasil pencarian nama-nama itu di internet nihil. Tak ada jejak digital selain di platform streaming.
Kecurigaan makin kuat setelah pengguna Reddit menemukan The Velvet Sundown di daftar Discover Weekly.
Ketika ditelusuri, akun Instagram @thevelvetsundownband justru menampilkan gambar personel yang menurut netizen tampak seperti hasil gambar AI: pencahayaan aneh, proporsi tubuh tak wajar, dan wajah terlalu “sempurna”.
The Velvet Sundown pun masuk radar spekulasi: ini band AI yang sedang ‘menyamar’ jadi musisi asli?
Terlebih, lagu-lagu mereka tak hanya hadir di Spotify, tapi juga muncul di Apple Music dan Deezer, yang belakangan dikenal sedang mengembangkan teknologi deteksi musik buatan AI.
Kasus The Velvet Sundown jadi peringatan besar soal bagaimana musik buatan AI bisa menyusup ke platform musik digital dan menipu algoritma dengan sangat halus.
Tanpa promosi besar, tanpa identitas jelas, tapi langsung menembus radar pendengar. Apakah ini masa depan industri musik? Atau justru alarm bahaya?
Yang jelas, The Velvet Sundown membuktikan bahwa hari ini, bahkan band yang tidak benar-benar ada, bisa viral dan mendominasi playlist. (***)
Editor : Alfian Yusni