”Indonesia kalau mempromosikan secara konvensional, biayanya jauh lebih besar dari itu,” kata Zul.
Zul mengatakan, media value pada event internasional seperti World Superbike (WSBK) maupun MotoGP untuk country branding, jauh lebih besar dibandingkan hosting fee Rp 200 miliar. Apalagi jika event internasional MotoGP sukses terselenggara, sebagaimana balapan WSBK. ”Ini menjadikan Indonesia semakin terkenal di seluruh dunia,” ujarnya.
Country branding tersebut tak lepas dari keberanian Presiden Joko Widodo, kata Zul. Dibarengi dengan sinergi antara pemerintah pusat melalui menteri dan kepala lembaga, pemerintah daerah, serta masyarakat.
”Pemda dan masyarakat NTB tentu berterimakasih kepada Presiden Jokowi, DPR, dan menteri yang begitu besar kontribusinya membangun NTB melalui Mandalika,” kata Zul.
Penyelenggaraan event internasional juga mengakselerasi pemerintah melakukan perubahan di daerah. Salah satunya dengan peningkatan hingga perbaikan infrastruktur bertaraf internasional. Mulai dari bandara, pelabuhan, jalan, hingga akses telekomunikasi.
Di sisi lain, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) masih fokus pada perbaikan di areal sirkuit. Salah satunya pengaspalan ulang, yang bakal dimulai 4 Maret.
Direktur Utama MGPA Priandhi Satria mengatakan, PT Pembangunan Perumahan (PP) telah melakukan seting cold milling maching. Serta percobaan pengelupasan permukaan trek dengan ketebalan tertentu.
Sebelum dioperasikan, mesin tersebut harus melalui persetujuan para pihak. Setelah itu mulai dilakukan pengelupasan yang terbagi dalam beberapa section. Dengan Cold Milling Machine, pengelupasan pada kedalaman tertentu akan dilakukan dengan konsisten. Rencananya dimulai dari tikungan 16 hingga sebelum tikungan 6.
”Tim sedang mempersiapkan bahan baku untuk pelapisan permukaan lintasan,” katanya.
Kemudian dari ITDC, saat ini fokus mempersiapkan fasilitas pendukung balapan MotoGP. Pembenahan dilakukan terhadap fasilitas penting, mulai dari race control hingga bangunan kantor untuk operasional GP.
Selain itu, tribun penonton juga dikebut pengerjaannya. Untuk kategori royal box, yang nantinya digunakan presiden, menteri, hingga penonton VIP dari swasta maupun sponsor. Kemudian tribun grand stand, VIP village, serta hospitality suites.
Untuk tribun grand stand, akan dibuatkan juga bagian tengah sirkuit. Ditargetkan selesai pada Maret minggu kedua, dengan kapasitas mencapai 50 ribu tempat duduk. Hingga pertengahan Februari lalu, progres pekerjaan mencapai 72,58 persen atau 22.056 kursi.
Kemudian ada standar grand stand terdiri dari 28.578 kursi, sudah mencapai 70,40 persen. Pekerjaan saat ini fokus untuk pemasangan kursi, scaffolding, pemasangan platform, hingga pemasangan membran. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita