Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dikembalikan Belanda Harta Karun Lombok Bakal Disimpan di Museum Nasional

Administrator • Kamis, 13 Juli 2023 | 01:29 WIB
TEMPAT BENDA BERHARGA: Inilah ruang khazanah tempat masterpiece bersejarah dari peradaban tiga suku di NTB, Sasak, Samawa, dan Mbojo, disimpan di Museum NTB.( DIDIT/LOMBOK POST)
TEMPAT BENDA BERHARGA: Inilah ruang khazanah tempat masterpiece bersejarah dari peradaban tiga suku di NTB, Sasak, Samawa, dan Mbojo, disimpan di Museum NTB.( DIDIT/LOMBOK POST)
JAKARTA–Museum Nasional Indonesia (MNI) dipilih menjadi “rumah” bagi 472 artefak yang dikembalikan oleh Belanda, termasuk di dalamnya 335 artefak yang merupakan “Harta Karun Lombok”. Rencananya, Harta Karun Lombok tersebut akan tiba di Indonesia pada Agustus mendatang.

Segala persiapan pun tengah dilakukan oleh MNI dalam menyambut kepulangan benda-benda bersejarah yang telah dijarah pada masa kolonial ratusan tahun lalu.

Pelaksana Tugas Kepala BLU Museum Nasional Indonesia (MNI) Ahmad Mahendra menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah hal menyangkut langkah-langkah penerimaan hingga treatment ratusan benda bersejarah tersebut. Dia merunut, nantinya, saat tiba di Indonesia akan dilakukan pengecekan jumlah dan jenis koleksi. Ini untuk memastikan kesesuaian dengan daftar yang dikembalikan.

”Pengecekan dilakukan baik saat di Belanda maupun saat tiba di Jakarta,” ungkapnya saat dihubunggi, kemarin (11/7).

Pengecekan juga dilakukan pada kondisi koleksi (condition report), mulai dari sebelum keberangkatan hingga tiba di Tanah Air. Apabila ditemukan kerusakkan pada artefak akibat perjalanan maka akan dilakukan treatment sesuai dengan tingkat kerusakkan koleksi.

Setiba di MNI, proses pencatatan dimulai. Pencatatan ini untuk memasukkan artefak dalam data registrasi koleksi MNI.

Selanjutnya, seluruh koleksi akan di simpan dalam storage. Tentu, proses penyimpanan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Menurutnya, tantangan terberat dalam penyimpanan koleksi ini adalah penyiapan ruang karantina. Ini wajib sesuai standar keamanan. Bukan hanya itu, iklim lingkungan storage pun harus diperhatikan betul.

”Dan kedua hal tersebut sangat bergantung pada jenis bahan dan kondisi koleksi,” jelasnya. Artinya, treatment untuk masing-masing koleksi bakal berbeda.

Lebih lanjut, Mahendra mengungkapkan, repatriasi benda bersejarah ini tak sekadar memindahkan barang dari Belanda ke Indonesia. Nantinya, akan dilakukukan kajian terhadap koleksi. Sehingga akan diungkap pengetahuan sejarah dan asal-usul benda bersejarah tersebut.

Selain itu, kajian ini juga untuk kebutuhan penataan dalam pameran. Dengan begitu bisa sesuai dengan alur cerita yang ada.

”Atau nanti dapat dilakukan pameran khusus terkait koleksi tersebut dan sejarah pengembaliannya. Ini sebagai bentuk publikasi kepada masyarakat,” tuturnya.

Program serupa juga pernah dilakukan pada pameran temporer koleksi Delft dengan judul Kembali ke Tanah Merdeka pada tahun 2019.

Disinggung soal proses pengiriman, Mahendra menyebut, 472 artefak tersebut kemungkinan besar dikirim secara bertahap dari Belanda ke Indonesia. Belum ada tanggal pasti, namun proses sedang berlangsung.

”Agustus dan September sudah sampai di Indonesia,” katanya.

 

Museum NTB Bersiap

 

Di sisi lain, Museum NTB juga bersiap, mengantisipasi, jika ada di antara Harta Karun Lombok tersebut yang akan ditempatkan di museum milik Pemprov NTB ini. Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam menyebutkan, pihaknya menyiapkan satu ruangan untuk tempat harta bersejarah Kerajaan Mataram-Cakranegara. Ruangan ini dinamakan Khazanah. Berisikan masterpiece bersejarah, koleksi Museum NTB.

”Hampir semua mahakarya peninggalan sejarah yang dimiliki museum ditaruh di sana,” katanya, kemarin (11/7).

Museum NTB sendiri sudah eksis semenjak tahun 1977. Terdapat dua ruangan untuk pameran tetap. Pada ruangan pameran pertama, terdapat koleksi batuan vulkanik, fosil kayu, hingga biota laut. Kemudian di ruangan pameran kedua, berisikan benda-benda bersejarah tiga suku di Provinsi NTB, yakni Sasak, Samawa, dan Mbojo, yang merupakan peninggalan pada masa Hindu, Islam, dan Pemerintahan Kolonial Belanda.

Koleksi-koleksi tersebut berupa Nekara, naskah khutbah Islam Wetu Telu, medali, baju dan tutup kepala yang terbuat dari besi. Ada juga jimat atau masyarakat Sasak menyebutnya sebagai bebadong.

Di ruangan pameran tetap kedua inilah terdapat ruangan Khazanah. Ukurannya tidak terlalu luas, sekitar 6x3 meter persegi, berada di bagian paling ujung. Ruangan khazanah dipisahkan dengan pembatas berupa kaca tebal yang cukup besar.

Untuk masuk ke dalam ruangan ini, pengunjung harus melewati satu pintu jeruji besi, sebagai bentuk pengamanan atas benda-benda bersejarah di dalamnya. Selain itu, sejumlah kamera pengawas ditempatkan di beberapa sudut ruangan.

Ruangan Khazanah berisikan koleksi paling berharga milik museum. Antara lain keris berlapiskan emas dan berhulu gading. Perhiasan emas dan permata. Serta replika mahkota dari Kerajaan Sumbawa. Seluruh benda bersejarah ini ditempatkan dalam lemari kaca.

”Hampir semuanya asli. Yang replika itu karena barangnya ada di Museum Nasional,” ungkap Alam.

Keberadaan benda bersejarah dengan nilai tak terhingga, membuat Museum melakukan pengamanan maksimal. Petugas keamanan Museum juga melakukan pengecekan secara berkala, di pagi hari, siang hari, dan sore hari saat Museum tutup.

”Ruangan Khazanah ini juga tidak selalu kami buka. Hanya di momen-momen tertentu. Walaupun begitu, pengunjung tetap bisa melihat koleksi dari luar,” jelasnya.

Kata Alam, ruangan tersebut saat ini sedang direnovasi. Pihaknya menambahkan beberapa ornamen untuk mempercantiknya. Renovasi ini juga sebagai langkah persiapan jika harta kekayaan Kerajaan Mataram-Cakranegara diserahkan ke Musum NTB.

”Jadi kami sudah siap ketika benda bersejarah itu diserahkan,” ujarnya.

Selain kesiapan keamanan, Museum NTB juga telah menyiapkan petugas untuk merawat benda-benda bersejarah ini. Ada empat orang, yang disebut sebagai Pamong Budaya. Bertugas sebagai konservator dan telah dibekali ilmu untuk perawatan benda-benda bersejarah.

”Tentu kami akan persiapkan lebih maksimal lagi kalau harta bersejarah itu diserahkan,” imbuh Alam.

Menurutnya, pemerintah pusat tentu akan melakukan kajian dan pertimbangan. Untuk memutuskan apakah harta bersejarah tersebut akan diserahkan kepada Museum NTB atau sebaliknya.

”Kalaupun memang nanti tidak diberikan, mungkin nanti bisa dipinjam untuk dipamerkan di sini,” tandasnya.

Sementara itu, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah mengatakan, Pemprov akan melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat menyusul pemerintah pusat yang berencana menempatkan benda bersejarah Kerajaan Mataram-Cakranegara di Museum Nasional.

”Nanti kami coba bicarakan,” kata Gubernur Zul. (mia/dit/JPG/r6)

 

Ketika Harta Karun Lombok Datang

 

Sumber: Museum Nasional Indonesia Editor : Administrator
#Harta Karun Lombok #Lombok Treasure #Museum Nasional