LombokPost - Di balik senyumnya yang memesona dan mahkota gemerlap yang kini menghiasi kepalanya, Firsta Yufi Amarta Putri memikul misi yang tak ringan: memanfaatkan statusnya sebagai Puteri Indonesia 2025 untuk mendorong perubahan sosial nyata. Namun yang menarik, langkah Firsta tak hanya berputar di panggung-panggung megah atau konferensi formal, melainkan justru berdenyut kencang di dunia digital — terutama TikTok dan YouTube.
Banyak yang tak tahu, jauh sebelum kemenangannya, Firsta sudah membangun audiens setia di media sosial. Di TikTok, ia mengunggah video-video ringan namun sarat pesan: mulai dari perjalanan personalnya sebagai mahasiswa psikologi yang berjuang menyelesaikan S2, hingga tips menjaga kesehatan mental di tengah tekanan sosial. Salah satu videonya tentang “5 Cara Menenangkan Pikiran Saat Cemas” telah ditonton lebih dari 500 ribu kali hanya dalam seminggu.
“Media sosial itu jembatan, bukan sekadar panggung pamer,” kata Firsta dalam wawancara eksklusif. “Lewat TikTok, aku bisa bicara langsung ke remaja-remaja yang mungkin merasa sendirian. Lewat YouTube, aku bisa cerita lebih panjang, berbagi pengalaman pribadi, atau ngobrol dengan narasumber ahli.”
Tim Digital Kecil yang Tangguh
Menariknya, Firsta tidak bekerja sendiri. Ia membentuk tim kecil berisi sahabat-sahabat dekatnya — sebagian adalah teman kampus, sebagian lain adalah pegiat media sosial yang ia kenal saat menjadi finalis daerah. Mereka bekerja sukarela, mengatur jadwal unggahan, mengedit video, merancang kampanye hashtag, hingga mengurus interaksi di kolom komentar.
Tim ini punya satu tujuan sederhana: memastikan pesan-pesan advokasi Firsta — terutama soal kesehatan mental, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian budaya daerah — menjangkau sebanyak mungkin audiens muda di seluruh Indonesia. “Kami tidak sekadar mengejar viral,” ujar salah satu anggota timnya. “Kami ingin viral yang berdampak.”
FIRSTepForward: Program Kampanye yang Hidup di Media Sosial
Di balik semua ini berdiri program advokasi utama Firsta: FIRSTepForward — permainan kata dari namanya sendiri dan “first step forward” (langkah pertama maju). Program ini berfokus pada remaja perempuan yang mengalami kehilangan figur keluarga (misalnya ditinggal wafat atau perceraian), yang sering kali mengalami luka batin mendalam.
Melalui Instagram Live, TikTok Q&A, hingga video YouTube, Firsta secara rutin mengangkat kisah-kisah inspiratif, membuka ruang diskusi, bahkan mempromosikan layanan konseling daring gratis bagi mereka yang membutuhkan. Strategi ini, menurut pengamat media, menjadi pembeda signifikan Firsta dibandingkan pemenang-pemenang Puteri Indonesia sebelumnya.
“Firsta tidak hanya memanfaatkan media sosial untuk membangun personal branding,” kata seorang analis media sosial dari Universitas Indonesia. “Dia menggunakan algoritma untuk memutar balik fokus: dari dirinya ke komunitas. Ini langkah cerdas dan langka.”
Baca Juga: Alhamdulillah, 6.597 Jamaah Calon Haji Asal Indonesia Telah Tiba di Madinah
Dampak Nyata: Inspirasi di Dunia Nyata
Bukti nyata keberhasilan kampanye digital Firsta terlihat dari respons komunitas. Di Jawa Timur, tempat asalnya, beberapa komunitas remaja mulai menyelenggarakan kegiatan offline terinspirasi dari kampanye online-nya — seperti workshop seni untuk penyembuhan luka batin, hingga diskusi kecil soal membangun mimpi meski berasal dari latar keluarga yang tidak sempurna.
Firsta sendiri mengaku bangga, tetapi tetap waspada. “Aku nggak mau terjebak euforia media. Aku tahu, ini baru awal. Aku harus belajar terus, mendengarkan terus, supaya misi ini nggak berhenti hanya di hashtag atau trending topic.”
Di era di mana sorotan sering hanya tertuju pada kemewahan panggung kecantikan, Firsta Yufi Amarta Putri menunjukkan jalur berbeda. Dengan kecerdasan digital, keberanian sosial, dan hati yang tulus, ia membuktikan bahwa seorang Puteri Indonesia tidak hanya bisa bersinar di atas panggung, tetapi juga menyala sebagai cahaya harapan bagi mereka yang membutuhkan — bahkan hanya lewat layar ponsel.
Editor : Akbar Sirinawa