Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sekolah Rakyat Berbeda Dengan Sekolah Formal, Alumninya Bakal Siap Kerja

Diwan Prima • Senin, 19 Mei 2025 | 12:11 WIB

 

Peninjauan persiapan operasional Sekolah Rakyat.
Peninjauan persiapan operasional Sekolah Rakyat.

LombokPost - Sekolah Rakyat yang akan beroperasi mulai Juli 2025 menjadi sorotam publik belakangan ini.

Tidak sedikit orang yang memandang sebelah mata dengan kurikulum yang akan diterapkan di Sekolah Rakyat.

Mengingat, pemerintah tidak mengutip biaya kepada seluruh murid yang akan bersekolah di Sekolah Rakyat.

Tidak hanya uang sekolahnya gratis, tapi pemerintah juga menggratiskan biaya asrama seluruh muridnya.

Ya, sekolah tersebut memiliki konsep sekolah asrama. Pemerintah menyasar para muridnya berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menjelaskan, pemerintah akan melakukan seleksi para muridnya berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

DTSEN berbeda dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

DTKS berisi data tentang status sosial ekonomi dan demografi dari sebagian penduduk Indonesia, terutama mereka yang berpotensi mendapatkan bantuan sosial. 

Sedangkan DTSEN berisi data lebih komprehensif tentang seluruh individu dan keluarga di Indonesia. 

Dengan adanya DTSEN, maka akan menggantikan DTKS sebagai sumber data tunggal untuk berbagai program pembangunan. 

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono mengatakan keberadaan Sekolah Rakyat akan menjadi sekolah unggulan untuk masyarakat kurang mampu.

Sebagai sekolah unggulan, tentunya Sekolah Rakyat pasti berbeda dengan sekolah formal biasa.

“Sekolah ini sistem yang dipakai mulai dari guru, alat, materi termasuk pelajaran-pelajaran yang akan diberikan adalah unggulan," ungkap Agus Jabo Priyono.

Terkait perbedaan dengan sekolah formal biasa, Agus menjelaskan bahwa para murid di Sekolah Rakyat akan mendapatkan pendidikan yang lebih.

"Kalau di sekolah formal hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, ini akan mendapatkan pendidikan karakter kebangsaan, karakter keagamaan termasuk kemampuan profesional. Jadi sudah siap kerja,” ungkapnya.

Dengan adanya pendidikan non formal tersebut, menandakan bahwa program ini dibuat sebagai langkah strategis nasional memutus rantai kemiskinan antargenerasi dan melahirkan generasi emas.***

Editor : Siti Aeny Maryam
#Sekolah Rakyat #kementerian sosial #Sekolah formal