LombokPost - Politik jatah preman bukan sekadar istilah nyeleneh. Ia adalah potret realitas yang membingkai keterlibatan ormas di Indonesia dalam peta kekuasaan.
Lewat buku kontroversial berjudul Politik Jatah Preman, Ian Douglas Wilson membuka tabir tentang bagaimana preman dan ormas menjelma menjadi aktor politik yang punya daya tawar, bukan cuma di jalanan, tapi juga di lingkar elit kekuasaan.
Dalam penelitiannya selama bertahun-tahun, Wilson, dosen di Asia Research Centre, Murdoch University, Australia mengungkap bahwa preman pasca Orde Baru tidak menghilang.
Justru mereka menemukan "panggung" baru di tengah sistem demokrasi Indonesia yang memberi ruang luas bagi kekuatan informal.
“Preman tidak hilang setelah Orde Baru tumbang. Mereka justru menemukan ruang baru dalam sistem demokrasi,” tulis Wilson.
Buku ini mengupas tuntas bagaimana politik jatah preman bekerja. Dalam praktiknya, ormas dari yang mengusung simbol agama, nasionalisme, hingga identitas lokal kerap dipakai oleh politisi dan pengusaha.
Peran mereka meliputi pengamanan proyek, pengerahan massa saat kampanye, hingga intimidasi terhadap pihak yang dianggap mengancam stabilitas kekuasaan.
Politik jalanan ini bukan gerakan liar semata. Wilson menyebut bahwa banyak ormas justru menjadi bagian dari infrastruktur informal negara.
Mereka diberi akses terhadap sumber daya ekonomi, bahkan dibiarkan menguasai sektor-sektor informal seperti parkiran, hiburan malam, hingga penguasaan wilayah-wilayah strategis.
Fenomena ini menciptakan pola patronase: politik jatah preman memberi imbalan loyalitas dengan kekuasaan ekonomi.
Legalitasnya pun seringkali kabur. Di satu sisi berdiri atas nama moralitas dan masyarakat, di sisi lain beroperasi dengan cara yang kerap melanggar hukum.
Buku “Politik Jatah Preman” pun menjadi bacaan penting menjelang tahun politik. Ia mengajak kita melihat bahwa kekuasaan tak selalu hadir lewat institusi formal. Kadang, justru dari balik motor, seragam loreng, dan pengeras suara jalanan.
Dengan maraknya ormas yang aktif menjelang pemilu, penting bagi publik untuk memahami bagaimana politik jatah preman bekerja.
Buku ini menjadi kaca pembesar yang menyorot relasi antara ormas di Indonesia, kekuasaan, dan praktik politik yang kerap tak kasat mata. (***)
Editor : Alfian Yusni