Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peneliti BRIN Temukan Katak Terbang yang Hilang Seabad, Buah Ekspedisi Dua Dekade

Lombok Post Online • Kamis, 12 Juni 2025 | 16:23 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Catatan penting ditorehkan para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka berhasil menemukan kembali katak terbang yang selama lebih dari satu abad dinyatakan hilang atau tidak terdeteksi.

Katak terbang itu pun dinaikkan statusnya menjadi jenis baru dan diberi nama Rhacophorus rhyssocephalus.

Penemuan fauna tersebut dimotori oleh Alamsyah Elang N.H. bersama timnya pada Agustus 2023, namun baru diumumkan saat ini.

“Penetapan spesies baru butuh kajian dan publikasi ilmiah internasional, jadi tidak boleh asal klaim begitu saja,” kata Alamsyah di Jakarta kemarin (11/6).

Alamsyah menjelaskan, katak itu sebelumnya diketahui sebagai subspesies Rhacophorus pardalis. Katak itu tersebar luas dari Sumatra hingga Kalimantan. “Katak ini disebut terbang karena memiliki selaput penuh di jari tangan dan kaki yang membantunya melayang saat melompat,” katanya.

Istilah katak terbang atau flying frog sendiri pertama kali diperkenalkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago. Alamsyah menjelaskan, bahwa genus Rhacophorus merupakan bagian dari famili Rhacophoridae.

Endemik Sulawesi

Dia menjelaskan, hasil ekspedisi selama dua dekade di Sulawesi menunjukkan adanya beberapa garis keturunan yang berbeda dalam kelompok Rhacophorus. Seluruhnya merupakan endemik di Sulawesi.

Kelompok katak terbang ini diklasifikasikan ke dalam empat grup berdasarkan karakteristik fisik. Pertama, grup Batik Cokelat karena memiliki corak menyerupai batik dengan moncong yang meruncing.

Kedua adalah grup Web Hitam yang memiliki selaput berwarna hitam di kakinya. Berikutnya, grup Hijau.

Katak ini berwarna hijau muda dan berukuran lebih kecil. Yang keempat, grup Pipi Putih, dengan ciri khas bercak putih di sebagian pipi.

Kepala Pusat Riset Biosistematika Evolusi BRIN Arif Nurkanto menjelaskan, Sulawesi terbentuk dari pertemuan tiga lempeng besar: Asia, Indo-Australia, dan Pasifik. Pertemuan ketiganya menyebabkan tingginya tingkat endemisitas.

KATAK
KATAK

“Secara biogeografi, Sulawesi tidak pernah terhubung sepenuhnya dengan Australia atau Asia, sehingga menghasilkan spesies unik,” ungkapnya. (wan/ttg/JPG/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#terbang #dekade #BRIN #katak terbang #katak #Fauna