Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

1 dari 7 Remaja Alami Gangguan Kesehatan Mental, Sekolah Diminta Jadi Ruang Aman

Rury Anjas Andita • Senin, 16 Juni 2025 | 11:09 WIB
WHO menyebut remaja rentan mengalami gangguan mental, untuk itu sekolah diminta jadi ruang aman dan ramah emosi.
WHO menyebut remaja rentan mengalami gangguan mental, untuk itu sekolah diminta jadi ruang aman dan ramah emosi.

LombokPost– Gangguan kesehatan mental pada remaja makin menjadi perhatian dunia.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, termasuk depresi, kecemasan, hingga gangguan perilaku.

Kondisi ini berkontribusi pada 15 persen beban penyakit remaja secara global.
Lebih memprihatinkan, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi pada kelompok usia 15–29 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental remaja adalah isu serius yang membutuhkan perhatian seluruh elemen masyarakat.

Mantan Menkes dan Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Keswa), Nila F. Moeloek, mengajak semua pihak meningkatkan kesadaran atas pentingnya kesehatan mental remaja.

Menurutnya, sekolah seharusnya tak hanya jadi tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang yang aman untuk pertumbuhan emosional dan psikologis anak.

“Kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas sangat penting agar remaja merasa aman, bisa mengekspresikan diri, dan berani mencari dukungan,” tegas Nila dalam acara Mental Health Unplugged: Stories, Chats, and Laughs hasil kolaborasi SWA dan Kaukus Keswa, Sabtu (14/6).

Aktivis sosial Inaya Wahid juga menekankan pentingnya berani terbuka dan meminta pertolongan. Ia menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan.

“Tidak ada yang salah dengan merasa terpuruk. Justru kita harus saling mendukung agar tidak terjebak dalam tekanan,” jelasnya.

Senada, komika Mo Sidik mengajak remaja lebih berani mencari kebahagiaan, termasuk lewat humor. “Tertawa memang bukan solusi segalanya, tapi bisa jadi cara menerima diri dan membuat hidup terasa lebih ringan,” ujarnya.

General Manager SWA, Deddy Djaja Ria, menegaskan bahwa ketahanan mental siswa sama pentingnya dengan capaian akademik.

Ia menekankan pentingnya literasi kesehatan mental, penghapusan stigma, dan budaya empati di sekolah. “Kami ingin siswa siap secara intelektual dan emosional,” katanya.

Sementara itu, Dwi Haryani, orang tua siswa, mengakui bahwa orang tua sering lupa memperhatikan sisi emosional anak.

“Diskusi ini membuka mata saya. Kesehatan mental remaja bukan cuma isu anak, tapi juga tanggung jawab keluarga,” ucapnya.

Editor : Rury Anjas Andita
#gangguan mental #Sekolah #remaja #Kesehatan #who