Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perbedaan Kesaksian Ali Musthofa vs Ayah Juliana Marins, Putri Kami Mati Karena Diterlantarkan Merokok

Rosmayanthi • Jumat, 4 Juli 2025 | 07:16 WIB

Perbedaan kesaksian Ali Musthofa dengan ayah Juliana Marins, pihak keluarga menuding putri tercintanya mati karena diterlantarkan merokok oleh guide.
Perbedaan kesaksian Ali Musthofa dengan ayah Juliana Marins, pihak keluarga menuding putri tercintanya mati karena diterlantarkan merokok oleh guide.
LombokPost - Orang tua Juliana Marins mengajukan permohonan otopsi ulang ke Kantor Kejaksaan Brasil.

Jenazah Juliana Marins akhirnya tiba di Pangkalan Angkatan Udara Galeao di Rio de Janeiro pada 1 Juli 2025 waktu setempat.

Juliana Marins adalah pendaki asal Brasil yang mengalami kecelakaan tragis jatuh di jurang Gunung Rinjani Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga tewas pada Sabtu (21/6).

Tiba di Brasil, pihak keluarga langsung ajukan permohonan otopsi ulang ke Kantor Jaksa Agung Brasil.

Rupanya ada perbedaan cerita tentang kronologis jatuhnya Juliana Marins antara kesaksian Ali Musthofa, guide pemandu Juliana dengan keterangan Ayah Juliana. Dari kronologis yang didapat keluarga Juliana inilah yang membuat pihak keluarga mencurigai jika anaknya tewas bukan karena kecelakaan biasa.

Seperti cerita yang beredar di media sosial, guide pendamping Juliana, Ali Musthofa membuat pengakuan kepada media Brasil, Oglobo.globo pada Jumat (27/6/2025).

Saat itu Ali Musthofa membantah meninggalkan Juliana saat beristirahat. Dia mengungkapkan, saat Juliana beristirahat, dia bersama rombongan 5 orang lainnya melanjutkan perjalanan. 

"Saya menunggu 3 menit lebih dulu, saya tidak meninggalkannya," kata Ali.

Kemudian dia merasa ada kejanggalan ketika Juliana yang ditunggu tidak juga menyusul. 

Dia lalu memutuskan untuk kembali ke lokasi Juliana beristirahat 30 menit kemudian. 

"Setelah sekitar 15 atau 30 menit, Juliana tidak muncul. Saya mencarinya di tempat peristirahatan terakhir, tetapi saya tidak menemukannya," kata dia. 

"Saya bilang saya akan menunggunya lebih dulu, saya menyuruhnya untuk beristirahat," beber Ali melajutkan.

Keberadaan Juliana baru diketahui ketika ada cahaya senter. 

"Saya sadar ketika saya melihat cahaya senter di jurang sedalam sekitar 150 meter dan mendengar suara Juliana meminta pertolongan. Saya bilang saya akan menolongnya," imbuh Ali.

Ali pun langsung menghubungi tempatnya bekerja untuk diteruskan ke Tim SAR. Ali mengaku tidak berdaya untuk melakukan penyelamatan sehingga pilihannya adalah menunggu Tim SAR.

Anehnya, kesaksian Ali ini jauh berbeda dari cerita yang disampaikan orang tua Juliana Marins.

Ada fakta mengejutkan yang diungkap orang tua Juliana Marins tentang kronologis sebelum dan setelah jatuhnya Juliana Marins di jurang Gunung Rinjani Sabtu (21/6).

Konon kronologis versi orang tua Juliana Marins ini di dapat dari pihak-pihak yang berangkat ke Gunung Rinjani bersama Juliana Marins.

Sambil menangis, Ibunda Juliana, Estela Marins, saat wawancara program Fantastico di TV Globo, menyebut bahwa kematian putrinya bukan sekadar kecelakaan biasa.

“Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap. Putri kami mati karena ditelantarkan,” ucap Estela sambil menangis.

Baginya kematian putrinya Juliana Marins sangat menyakitkan. Dia menuding baik guide pemandu maupun tim penyelamat telah menyebabkan kematian putrinya.

“Ini sangat menyakitkan dan membuat kami marah. Orang-orang ini telah membunuh putri saya,” kata Estela dengan suara bergetar.

Sementara sang ayah, Manoel Marins, memaparkan kronologi yang membuat keluarga semakin yakin bahwa terdapat unsur kelalaian berat.

Manoel mengungkapkan, sang pemandu meninggalkan Juliana sendirian di jalur pendakian setelah mengeluh kelelahan.

Guide pemandu Juliana Marins sudah diperiksa polisi dua kali, Ali Musthofa membantah meninggalkan Juliana saat tengah beristirahat.
Guide pemandu Juliana Marins sudah diperiksa polisi dua kali, Ali Musthofa membantah meninggalkan Juliana saat tengah beristirahat.

“Dia ditinggal hanya karena pemandunya ingin merokok. Untuk merokok! Saat kembali, putri saya sudah hilang dari pandangan,” cerita Manoel.

Manoel juga mengungkapkan kronolis kejadian menurut versi yang dia dengar dari saksi mata saat kejadian.

Kejadian bermula sekitar pukul 04.00 pagi. Juliana meminta istirahat karena merasa lelah. Pemandu menyuruhnya duduk di tempat dan kemudian pergi sekitar 5–10 menit untuk merokok. Saat kembali, Juliana sudah tak terlihat lagi.

Dua jam berselang, tepat pukul 06.08 pagi, pemandu mengaku baru melihat Juliana kembali dari kejauhan dan merekam sebuah video untuk dilaporkan ke atasannya. 

Bagi pihak keluarga, kronologis kejadian itu menjadi bukti nyata bahwa keselamatan wisatawan tidak dijaga dengan semestinya.

Manoel juga menemumakan fakta lain yang cukup aneh, dimana perusahaan wisata menjual paket pendakian melewati kios-kios kecil tanpa memberikan informasi akurat tentang tingkat kesulitan jalur.

“Seolah-olah ini jalur ringan, padahal berbahaya,” ucap Manoel.

Keluarga juga menyalahkan pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang dianggap lambat dalam memberikan respons setelah menerima laporan hilangnya Juliana Marins.

“Koordinator taman terlambat menghubungi tim penyelamat,” ungkap Manoel.

Keluarga besar Juliana Marins berharap autopsi ulang ini bisa menjadi titik terang yang sebenarnya yang menyebabkan Juliana Marins tewas. 

Mereka menuntut kejelasan, siapa yang harus bertanggung jawab atas kehilangan putri tercinta mereka.

Editor : Siti Aeny Maryam
#keluarga #rinjani #Ali #Lombok #musthofa #Juliana Marins