LombokPost -Harga beras melambung, petani merana. Di tengah situasi pelik itu, Mahfud MD dan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bersatu suara: gebuk mafia pangan.
Dalam tayangan podcast “Terus Terang” bersama Mahfud MD, Mentan Amran Sulaiman buka-bukaan soal betapa gilanya permainan mafia pangan di Indonesia.
“Ini tidak adil, Prof!” kata Amran, menyindir tajam pelaku-pelaku curang yang selama ini leluasa memainkan harga beras dan pupuk palsu di pasar.
Baca Juga: Vanessa Kirby Hamil di Film Fantastic Four, Marvel Tampilkan Superhero Ibu Pertama di Layar Lebar
Perang Terbuka Lawan Mafia Pangan
Amran Sulaiman menyebutkan, 86% dari 268 sampel beras yang dicek di 13 laboratorium nasional tidak sesuai standar.
“Harga beras mestinya Rp12.500 per kg, tapi di pasar dijual Rp14 ribu sampai Rp17 ribu. Selama 10 tahun kerugiannya bisa tembus Rp900 triliun. Ini kerja mafia pangan,” beber Amran.
Mahfud MD pun tampak geram. Ia menyebut para pelaku mafia pangan sebagai “parasit pembangunan” yang harus dilenyapkan dari sistem. Keduanya sepakat bahwa perang terhadap mafia pangan tak bisa ditunda.
Presiden Turun Gunung, Regulasi Disikat
Perintah Presiden jelas: gebuk mafia pangan, jangan kasih ampun. Amran mengaku kini tak lagi sendiri. “Saya disuruh gaspol oleh Presiden,” ujarnya.
Salah satu gebrakan besar adalah pemangkasan regulasi pupuk dari 145 aturan yang melibatkan 12 menteri disederhanakan hanya dengan KTP. Hasilnya, petani makin mudah dapat pupuk.
Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pun naik ke angka 121, tertinggi sepanjang sejarah. “Kalau ingin jadi negara super power, semua pihak harus kolaborasi. Tidak bisa sendirian,” tambah Amran.
Tegas dan Tak Takut Mati
Gebuk mafia pangan bukan perkara ringan. Tapi Amran siap. “Cobaan tertinggi adalah kematian. Saya tidak takut. Ini soal amanah dan ibadah,” tegasnya.
Lima perusahaan pupuk palsu langsung dicabut izinnya. Direkturnya kini jadi tersangka.
Bahkan sebelas pejabat di lingkungan kementeriannya dicopot karena pembiaran.“Satu pejabat saya ‘bikin ngaku’ dalam waktu lima menit,” katanya, disambut tawa Mahfud.
Gaji Menteri untuk Anak Yatim
Di balik sikap kerasnya, Amran tetap menyimpan sisi humanis. Gaji menteri yang ia terima sepenuhnya disumbangkan kepada anak yatim dari kalangan internal Kementan.
“Ini bukan tempat cari untung. Ini tempat ibadah,” ujarnya.
Mahfud pun mengamini. Menurutnya, pejabat sejati bukan yang sibuk menumpuk harta, tapi yang bisa membuat rakyat tenang dan hidup layak.
Mahfud MD dan Amran Sulaiman kini jadi duet tukang gebuk mafia pangan. Harga beras yang melonjak dan pupuk palsu yang merajalela tak bisa lagi ditoleransi. Mafia pangan harus dilawan, demi petani yang selama ini jadi korban.
“Jangan pernah takut, Prof. Saya siap mati,” tutup Amran penuh semangat. (***)
Editor : Alfian Yusni