LombokPost – Pada Rabu, 30 Juli 2025, pukul 06.24 WIB (08.24 waktu setempat), ujung timur Rusia diguncang gempabumi tektonik sangat kuat berkekuatan M8,8.
Gempa ini berpusat di kedalaman 20,7 km di wilayah Palung Kamchatka, di mana lempeng Samudra Pasifik menunjam ke bawah lempeng Samudra Laut Okhotsk.
Fenomena ini dikenal sebagai gempa megathrust, yang terjadi akibat pematahan naik kerak bumi.
Dengan magnitudo sebesar 8,8, diperkirakan zona rusak gempa (rupture zone) di kerak bumi mencapai luas 390x140 km, menurut data US Geological Survey.
Kota terdekat dari episentrum, Petropavlovsk-Kamchatsky yang berpenduduk 180 ribu jiwa, dilaporkan mengalami guncangan hebat.
Karena kekuatan dan kedalamannya yang dangkal serta lokasinya di laut, gempa ini mengangkat dasar laut dan memicu tsunami setinggi 4 meter yang menghantam Semenanjung Kamchatka.
Tsunami juga telah dilaporkan terjadi di Jepang dan Hawaii, serta mengancam seluruh area yang menghadap Samudra Pasifik, termasuk Alaska, Amerika Utara, Filipina, dan sebagian wilayah Indonesia seperti Sulawesi Utara dan Papua utara.
Menariknya, sepuluh hari sebelum gempa dahsyat ini, tepatnya 20 Juli 2025, telah terjadi gempa kuat M7,4 di dekat episentrum gempa Rabu (30/7) pagi.
Hal ini mengindikasikan bahwa gempa M7,4 tersebut kemungkinan besar adalah gempa pendahulu (foreshock) sebelum gempa utama M8,8 terjadi. Sayangnya, hingga saat ini, para ahli seismologi belum dapat memprediksi secara pasti apakah suatu gempa adalah foreshock atau gempa utama.
Baca Juga: Gempa 8,7 SR Guncang Rusia, Tsunami Ancam Wilayah Timur Indonesia
"Semoga gempa megathrust sangat kuat Kamchatka 30 Juli 2025 ini tidak signifikan menelan korban gempa atau oleh tsunaminya," demikian harapan yang disampaikan banyak pihak.
Kejadian gempa megathrust Kamchatka ini kembali mengingatkan Indonesia pada ancaman serupa dari Palung Sunda, yang membentang dari barat Sumatra, selatan Selat Sunda, hingga selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Meskipun beberapa gempa kuat hingga sangat kuat (M7.0 - M9.2) telah terjadi di barat Sumatra.
Wilayah selatan Selat Sunda hingga selatan Nusa Tenggara belum pernah tercatat mengalami gempa megathrust dengan magnitudo 8,0+ oleh seismograf modern.
Gempa megathrust terkuat yang tercatat di selatan Jawa adalah M7,8 pada 21 Juli 2006, yang memicu tsunami di Pangandaran.
Menurut Pakar Geolog Awang Satyana, secara geologi dan tektonik, gempa-gempa megathrust dari selatan Selat Sunda hingga selatan Nusa Tenggara diperkirakan tidak akan sebesar yang terjadi di Sumatra.
Perbedaan ini disebabkan oleh karakteristik lempeng samudra yang menua seiring perjalanan dari Selat Sunda hingga Sumba.
Lempeng yang menua ini menunjam lebih curam, menyebabkan gaya "slab pull" (tarikan subduksi) bekerja lebih kuat dibandingkan gaya "push overriding plate" (tekanan lempeng samudra atas lempeng di atasnya).
Kondisi ini mengakibatkan pertemuan lempeng di Palung Sunda bagian timur tidak saling mengunci (coupling) sepenuhnya. Melainkan hanya sebagian terkunci (partially decoupling) atau bahkan tidak saling mengunci (decoupling).
Perlu diketahui, gempa-gempa dengan magnitudo 8,0+ umumnya dihasilkan dari kondisi pertemuan lempeng yang coupling penuh.
Lebih lanjut, Awang Satyana menjelaskan bahwa kecuraman sudut Benioff (zona penunjaman lempeng) yang bertambah dari selatan Selat Sunda ke selatan Nusa Tenggara telah membuat zona megathrust antarlempeng menjadi lebih sempit.
Zona yang sempit seperti ini mempersulit terjadinya gempa sangat kuat dengan magnitudo 8,0+, karena gempa sebesar itu membutuhkan rupture zone yang luas.
Baca Juga: Gempa M 8,7 di Rusia, BMKG Waspadai Tsunami di 10 Wilayah Indonesia Sore Ini
"Maka gempa-gempa sangat kuat (M8,0+) akan lebih mungkin terjadi (dan sudah terbukti) di barat Sumatra (yang rupture zone-nya luas dan coupling) daripada di selatan Selat Sunda, selatan Jawa, selatan Bali, selatan Nusa Tenggara (yang rupture zone-nya sempit, partially decoupling, atau decoupling)," papar Awang Satyana.
Pandangan ini menyoroti bahwa meskipun peta potensi gempa yang dipublikasikan Pusgen (Pusat Gempa Nasional, 2017) menempatkan potensi gempa di selatan Selat Sunda hingga selatan Nusa Tenggara dengan magnitudo maksimum 8+ bahkan 9+, secara geologi dan tektonik, hal tersebut sesungguhnya akan sulit terjadi.
Editor : Rury Anjas Andita