Capaian ini ditopang pendapatan perusahaan yang mencapai Rp545,4 triliun sepanjang 2024, tumbuh sebesar 11,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
PLN menjadi satu-satunya perusahaan utilitas asal Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar korporasi terbesar dunia versi Fortune.
Baca Juga: Merajut Spirit Islam dan Budaya Tau Samawa di Rumah Aspirasi Johan Rosihan
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menilai pencapaian ini sebagai buah dari strategi transformasi menyeluruh yang konsisten dijalankan perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar global.
“Masuknya PLN ke dalam daftar Fortune Global 500 adalah bukti bahwa strategi transformasi yang kami jalankan membuahkan hasil. Ini bukan hanya pengakuan terhadap skala usaha kami, tetapi juga terhadap daya saing dan ketahanan bisnis PLN,” ujar Darmawan.
Ia menjelaskan, pertumbuhan pendapatan tersebut didorong oleh volume penjualan listrik yang mencapai 306,22 terawatt hour (TWh) sepanjang 2024, naik 6,17 persen dibanding tahun sebelumnya. Konsumsi tenaga listrik ini setara dengan Rp353,17 triliun.
Baca Juga: ITDC Sebut Kunjungan ke Mandalika Tembus Setengah Juta Wisatawan
Penjualan listrik didominasi oleh:
- Sektor rumah tangga: 43 persen
- Sektor industri: 30 persen
- Sektor bisnis: 19 persen
- Sektor lainnya: 8 persen
Konsumsi listrik rumah tangga tumbuh 6,62 persen menjadi 130,43 TWh, sedangkan sektor industri meningkat 4,17 persen menjadi 92,28 TWh.
Darmawan mengapresiasi dukungan penuh pemerintah dan kepercayaan masyarakat sebagai elemen penting yang mendorong keberhasilan tersebut.
“Capaian ini tak lepas dari dukungan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi dan kebijakan energi yang kondusif,” katanya.
Efisiensi dan Transformasi Digital
Keberhasilan PLN juga ditopang oleh efisiensi biaya dan optimalisasi portofolio bisnis yang adaptif terhadap perubahan global.
“Kami melakukan efisiensi menyeluruh tanpa mengorbankan kualitas layanan. Digitalisasi sistem, penguatan struktur keuangan, dan inovasi layanan pelanggan telah meningkatkan produktivitas sekaligus menekan beban operasional,” imbuh Darmawan.
Salah satu inisiatif utama yang mendorong perbaikan sistem keuangan PLN adalah pembentukan Cash War Room (CWR), yang mengintegrasikan manajemen anggaran, likuiditas, utang, dan valuasi aset.
PLN juga menerapkan sistem:
- Spend control tower
- Centralized payment
- Centralized planning
Melalui sistem centralized payment, proses pembayaran dapat dilakukan lebih cepat dari tenggat waktu yang ditentukan, yang berdampak langsung pada kesehatan finansial perusahaan.
Indikator Keuangan Positif
Kesehatan finansial PLN semakin kuat, tercermin dari:
- Debt to Equity Ratio (DER): membaik menjadi 38,02 persen
- Consolidated Interest Coverage Ratio (CICR): meningkat menjadi 3,71 kali
Selain itu, total aset perusahaan mencapai Rp1.772,4 triliun hingga akhir 2024, naik 6,09 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan fundamental keuangan yang solid dan meningkatnya kepercayaan investor.
Langkah Masa Depan
Darmawan menegaskan, PLN akan terus berinovasi dan membangun ekosistem energi yang berkelanjutan serta memperluas kerja sama internasional.
“Kami tidak akan berhenti bertransformasi. Fokus ke depan adalah mendorong inovasi, memperkuat ekosistem energi hijau, dan memastikan PLN mampu menjadi motor penggerak transisi energi Indonesia,” tutupnya. (*)
Editor : Marthadi