Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kenali dan Siaga, Mari Menguak Pentingnya Sistem Peringatan Dini Bencana di Indonesia

Nurul Hidayati • Senin, 4 Agustus 2025 | 15:26 WIB
Tim BRIN Temukan Jejak Tsunami Purba Tak Jauh dari Bandara Jogja
Tim BRIN Temukan Jejak Tsunami Purba Tak Jauh dari Bandara Jogja

LombokPost – Indonesia, dengan letak geografis dan klimatologisnya yang unik, tak bisa lepas dari ancaman bencana alam.

Berangkat dari realita ini, pemahaman mendalam tentang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) dan gejala alam menjadi krusial bagi keselamatan masyarakat.

EWS bukan sekadar sirene berbunyi, melainkan serangkaian upaya terintegrasi untuk memberitahukan potensi bahaya, memberi waktu kritis bagi warga untuk merespons dan menyelamatkan diri.

EWS adalah alur proses analisis data-data mentah tentang sumber bencana dan sintesis dari berbagai pertimbangan yang bermuara pada informasi bahaya yang akurat.

"Ketepatan informasi hanya dapat dicapai apabila kualitas analisis dan sintesis mempunyai ketepatan yang tinggi," ujarnya.

Ini berarti, ada dua bagian utama dalam EWS baik bagian hulu yang mengolah data menjadi informasi tepat, dan bagian hilir yang memastikan informasi cepat sampai ke masyarakat.

Di negara rawan bencana seperti Indonesia, EWS memiliki peran vital dalam siklus manajemen penanggulangan bencana, terutama pada tahap kesiagaan.

Tujuan akhirnya sederhana agar masyarakat dapat tinggal dan beraktivitas dengan aman.

Untuk mencapainya, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi.

 Baca Juga: Gempa Dahsyat Jepang Picu Peringatan Dini Tsunami Berbunyi

Pemetaan daerah rawan bencana di seluruh Indonesia.

Peningkatan pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan praktik (practice) masyarakat dan aparat terhadap fenomena bencana, gejala awal, serta mitigasinya.

Penataan kawasan yang mempertimbangkan potensi bencana.

Pemahaman mendalam terhadap sumber-sumber bencana.

Target utama dari EWS adalah masyarakat dan aparat, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Pentingnya pelibatan multi-generasi dan berbagai lapisan sosial.

"Keterlibatan masyarakat, aparat, dan akademisi sangat penting. Jika salah satu komponen saja yang dominan, dikhawatirkan sistem ini tidak akan berjalan efektif," tegasnya.

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Peringatan dini dapat dilakukan melalui dua cara utama.

Konvensional atau tradisional mengandalkan pengenalan gejala alam yang muncul sebelum bencana, disesuaikan dengan karakteristik bencana itu sendiri.

Cara modern menggunakan teknologi tinggi seperti pemantauan satelit dan peralatan canggih untuk memantau aktivitas di atmosfer secara periodik.

 Baca Juga: BPBD Mataram Bakal Tambah Tower Peringatan Dini Tsunami di 8 Kelurahan

Meskipun teknologi modern sangat membantu, tantangan biaya instalasi dan operasional seringkali menjadi kendala.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan kemampuan mengenali gejala alam menjadi jawaban paling memungkinkan.

Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat serta aparat terhadap kondisi daerah rawan, gejala awal bencana, tindakan darurat, dan mitigasinya menjadi kunci untuk mengurangi korban.

Beberapa gejala alam yang patut diwaspadai sebelum terjadinya bencana.

Letusan Gunung Api: Hewan hutan keluar ke wilayah lebih rendah, ular/tikus/kecoa keluar dalam jumlah besar, suhu udara meningkat drastis.

Gempa Bumi: Awan berbentuk aneh (tornado/pohon), lampu neon menyala redup tanpa arus, siaran TV terganggu, hewan berperilaku aneh/gelisah.

Tanah Longsor: Hujan intensitas tinggi (>300 mm selama 3 hari berturut-turut), tanah bergerak (creep), pohon/tiang miring.

Tsunami: Hewan laut keluar ke permukaan, gempa bumi besar diikuti surutnya air laut drastis, bau asin, angin dingin menyengat, suara dentuman dari dasar laut.

Badai: Awan hitam tebal, angin kencang, udara dingin, gelombang laut meninggi, hujan sangat deras.

 

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Kekeringan: Bulan kering berkepanjangan, suhu tinggi dan kering, hewan tanah muncul ke permukaan, daun tanaman meranggas.

Banjir: Hujan intensitas tinggi, naiknya permukaan air sungai, hutan gundul di hulu, air sungai keruh/penuh lumpur, aliran sedimen cepat, suara riuh-rendah dari hulu.

Pemberdayaan masyarakat adalah kunci keberhasilan EWS.

 Baca Juga: Urgensi Peringatan Dini Iklim Ekstrem Cegah Dampak Kekeringan

Melihat urgensi dan kompleksitasnya, EWS paling efektif dilakukan dengan sistem pemberdayaan masyarakat, melibatkan aparat pemerintah dan akademisi sebagai fasilitator dan motivator.

Sistem ini harus mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik dari setiap komponen yang terlibat.

Syarat utama agar peringatan dini ini dapat berhasil efektif adalah diperlukan komitmen pribadi dan aksi nyata dari tiap individu/institusi, serta komunikasi yang baik antar individu yang terlibat.

Dengan demikian, kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga peran aktif setiap individu dalam mengenali tanda-tanda alam dan merespons peringatan dini dengan cepat dan tepat.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Indonesia #peringatan dini #Rawan #kawasan #ews #Bencana #Early Warning Sistem