LombokPost - Bangga jadi santri Assalaam, kuat menjadi pemimpin. Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan pesan penuh makna yang disampaikan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, saat kembali ke almamaternya PPMI Assalaam Surakarta sebagai keynote speaker Seminar Nasional 43 Tahun PPMI Assalaam.
Kehadiran Lalu Muhamad Iqbal, yang merupakan Alumni Angkatan ke-4 PPMI Assalaam, menjadi momen spesial.
Selain memberi motivasi, ia juga mengajak santri untuk memaknai kebanggaan sebagai energi positif.
“Pohon hanya akan tumbuh besar rimbun kalau dia dijauhkan dari pohon besar lainnya,” ujarnya, menggambarkan pentingnya merantau, belajar mandiri, dan menghadapi tantangan hidup agar menjadi kokoh.
Seminar Nasional ini merupakan bagian dari rangkaian Apel 43 Tahun PPMI Assalaam yang juga diisi dengan penganugerahan Assalaam Award 2025.
Acara ini disiarkan di berbagai platform resmi PPMI Assalaam, termasuk Facebook, Instagram, dan TikTok, yang memperlihatkan momen kebersamaan antara santri, alumni, dan pengasuh pondok.
Menurut Lalu Muhamad Iqbal, santri Assalaam punya peluang besar menjadi pemimpin, karena merantau untuk menuntut ilmu adalah berkah sekaligus jihad.
Hidup di pesantren membentuk fokus, kedewasaan, dan karakter kuat sejak dini. “Kesuksesan santri bukan diukur dari jabatan atau kekayaan, tapi dari manfaat yang diberikan untuk umat. Kuncinya, uruslah hari ini dengan sebaik mungkin. Present adalah hadiah,” tegasnya.
Dalam momen itu, ia mengingatkan santri untuk tidak ragu menatap masa depan dengan percaya diri.
Kebanggaan sebagai santri Assalaam, kata Iqbal, adalah modal spiritual dan mental untuk meraih cita-cita, sekaligus menjaga nilai-nilai pesantren dalam kehidupan nyata.
Peringatan 43 tahun PPMI Assalaam ini menjadi refleksi perjalanan panjang pondok dalam mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
Dengan dorongan dari para alumni sukses seperti Lalu Muhamad Iqbal, pesantren ini semakin memantapkan perannya sebagai kawah candradimuka pemimpin masa depan bangsa. (***)
Editor : Alfian Yusni