LombokPost - Masalah makanan basi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus jadi sorotan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun turun tangan. Lewat kajian strategis yang dilakukan Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler (PR-EPS) BRIN, Rika Reviza Rachmawati, berbagai solusi ditawarkan guna menyempurnakan penyediaan dan distribusi pasokan makanan MBG.
Rika menekankan pentingnya keterlibatan petani lokal, UMKM, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam memperkuat rantai pasok makanan bergizi. Hal ini dinilai krusial agar distribusi pangan tak hanya lancar, tapi juga berkelanjutan.
"Keberhasilan program MBG sangat bergantung pada ketersediaan dan distribusi pangan bergizi yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan pers, Rabu (13/8).
Menurut Rika, keterlibatan elemen lokal juga bisa berdampak positif pada kemandirian pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penelitian yang ia lakukan juga menyoroti perlunya kolaborasi antara pemerintah dan lembaga desa untuk memperpendek rantai distribusi.
Salah satu sorotan dalam kajian BRIN adalah pentingnya peran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Rika menjelaskan, koperasi ini bisa berkontribusi dalam pendanaan melalui pemberian kredit kepada yayasan untuk mendirikan Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
"Koperasi Merah Putih bisa memberikan dana kredit ke yayasan untuk Pendirian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) secara luas," katanya.
Dengan penyebaran SPPG yang merata, makanan MBG diharapkan bisa lebih cepat sampai ke anak-anak sekolah, tanpa risiko basi karena jalur distribusi yang terlalu panjang.
Lebih lanjut, Rika menegaskan bahwa program MBG sangat strategis, terutama dalam meningkatkan gizi anak usia sekolah, ibu hamil/menyusui, hingga balita. Program ini juga diyakini mampu mencegah stunting, selama kualitas makanan yang disajikan tetap terjaga.
"Jangan sampai hidangan yang tersaji dalam kondisi basi, karena panjangnya rantai distribusi," tegasnya.
Tak hanya soal gizi, Rika juga melihat potensi ekonomi dari MBG. Program ini disebutnya bisa jadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar karena menyerap hasil pertanian lokal dengan harga lebih baik dan kepastian pasar.
Kasus Keracunan di Sragen
Sementara itu, kondisi enam dari 11 pasien yang dirawat di RSUD Soeratno Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, karena diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) berangsur membaik. Pihak dapur umum yang menyediakan makanan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.
Kabid Pelayanan dan Penunjang RSUD Soeratno Gemolong dr Mayasari Ayu Hendrawati MM mengatakan, pasien memiliki riwayat yang sama. Selepas mengonsumsi makanan MBG, mereka mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, serta diare.
Menurut Mayasari, kondisi pasien sudah membaik. ”Sudah membaik meski belum sembuh total,” ucapnya (13/8).
Pihak RS, kata Mayasari, mengambil kebijakan untuk meringankan beban para korban. Pasien tidak ditarik biaya pengobatan alias gratis. Sebab, kasus itu berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. ”Kami sudah menyiapkan skenario dan beberapa (pasien) tidak memiliki jaminan kesehatan,” ujarnya.
Pengelola Tanggung Biaya Perawatan
Keracunan yang menimpa 251 siswa dan guru di Gemolong membuat pengelola hingga karyawan dapur SPPG Gemolong terpukul. Mereka meminta maaf atas kejadian tersebut.
Penanggung jawab Dapur SPPG Mitra Mandiri BGN Arifudin Setiawan menyampaikan permohonan maaf atas musibah tersebut. Pihaknya mengakui adanya keteledoran saat menyiapkan menu makanan. ”Kami juga siap menanggung biaya pasien yang rawat inap,” ucap Ari sapaan akrab Arifudin Setiawan.
Menurut Ari, pihaknya menduga menu yang bermasalah adalah nasi kuning, telur suwir, kering tempe, salad timun, buah apel, dan susu kemasan yang didistribusikan pada Senin (11/8). ”Penyebabnya kami belum tahu, apakah di nasi, telur, atau tempe. Sampel sudah dibawa Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk diuji di laboratorium Semarang,” jelasnya.
Tim Dapur SPPG Mitra Mandiri merasa bersalah atas insiden tersebut. Sesuai arahan Bupati Sragen, operasional dapur yang menyuplai MBG ke 14 sekolah itu dihentikan selama dua hari. Namun, Ari memperkirakan, penghentian itu akan berlanjut hingga Senin depan. Pihaknya mempertimbangkan kesiapan mental para karyawan.
Lebih lanjut, Ari akan mengevaluasi alur penyediaan makanan. Dia berjanji akan segera memperbaiki sistem, jika hasil uji lab sudah keluar. ”Kami akan datang ke sekolah-sekolah untuk klarifikasi dan meminta maaf,” tuturnya. (wan/din/aph/JPG/r3)
Editor : Pujo Nugroho