LombokPost - Pakar komunikasi politik, Hendri Satrio atau akrab disapa Hensat menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang terjadi di beberapa daerah dalam beberapa hari terakhir bukan ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, posisi Prabowo masih sangat kuat dan sulit untuk digoyahkan.
“Kemarahan rakyat ini bukan ke Pak Prabowo kok, jadi Pak Prabowo masih sangat kuat posisinya hari ini, jadi sulit lah untuk dijungkalkan,” kata Hensat, Minggu 31 Agustus 2025.
Ia menanggapi analisis pengamat militer Connie Rahakundinie Bakrie yang meminta Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menjaga ketat Presiden Prabowo. Menurut Hensat, pernyataan itu wajar dan tepat.
“Dasco adalah orang paling dipercaya Prabowo, tegak lurus, dan bisa menerjemahkan arahan dengan baik. Jadi, wajar kalau Mbak Connie meminta beliau untuk menjaga Prabowo,” tambah pendiri KedaiKOPI itu.
Di sisi lain, suara kritis juga datang dari Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Riyan Betra Delza.
Ia menilai ada upaya pengalihan isu dari DPR ke Polri dalam dinamika aksi belakangan ini.
Menurutnya, tuntutan awal demonstrasi jelas menolak tunjangan dan dana pensiun DPR.
Namun, setelah tragedi meninggalnya pengemudi ojol Affan Kurniawan oleh oknum Brimob, fokus aksi berubah dengan menjadikan polisi sebagai sasaran.
“Akhirnya DPR seperti cuci tangan, seperti mereka lupa bahwa hal ini terjadi karena ulah mereka. Rakyat dibenturkan dengan polisi,” ujar Riyan.
IMM mengingatkan bahwa anarkisme dan tindakan represif sama-sama tidak boleh dilakukan, baik oleh massa aksi maupun aparat keamanan.
Riyan juga menegaskan agar masyarakat tidak terjebak dalam skenario pecah belah.
“Tentu kita berduka atas meninggalnya saudara kita, dan kita minta Kapolri menindak tegas. Tapi saat ini, kita harus kembali ke tuntutan awal, yaitu ke DPR, bukan menjadikan polisi sebagai lawan,” tegasnya. (***)
Editor : Alfian Yusni