LombokPost – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 di Bekasi, Jawa Barat, hadir sebagai mercusuar harapan bagi ratusan siswa dari keluarga kurang mampu yang sebelumnya terancam putus sekolah.
Program inovatif ini tidak hanya membebaskan siswa dari biaya pendidikan.
Tetapi juga menjamin seluruh kebutuhan hidup dan fasilitas belajar mereka secara gratis.
"Saya awalnya hampir putus sekolah," ujar Misfan Nazriel Faturrahman, siswa SRMA 13, dengan nada haru.
"Tapi berkat ada Sekolah Rakyat, saya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Di sekolah ini, alhamdulillah tidak memakan biaya sama sekali,” tambahnya.
Misfan bukan satu-satunya.
Silver Rubyana atau Ruby, juga merasakan manfaat besar. Berasal dari keluarga dengan ayah buruh dan ibu rumah tangga, Ruby sempat khawatir akan biaya pendidikan.
"Waktu MTS aku kepikiran soal biaya terus. Saat ditawarkan Bunda ke sekolah rakyat, langsung mau," kenang Ruby.
Misfan dan Ruby mewakili 178 siswa di SRMA 13 yang berasal dari desil ekonomi 1 dan 2. Mereka kini mengenyam pendidikan menengah atas tanpa membebani orang tua mereka yang rata-rata berprofesi serabutan.
Fasilitas All-in: Dari Laptop hingga Asrama Gratis
Yang membedakan Sekolah Rakyat dari institusi pendidikan lainnya adalah jaminan fasilitas yang sangat lengkap dan gratis. Para siswa tidak hanya dibebaskan dari kewajiban Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), tetapi juga menerima segala penunjang kehidupan dan belajar.
"Semua kebutuhan kita telah dibiayai oleh sekolah," tutur Misfan. "Mulai dari eskulnya, perlengkapan sekolah, bahkan kami disediakan laptop untuk belajar masing-masing. Setiap kebutuhan siswa, mulai dari makanan, pakaian, alat sekolah, hingga alat-alat mandi, telah diberikan oleh sekolah."
Ruby menambahkan bahwa mereka mendapatkan buku, alat tulis, seragam, serta tempat tinggal di asrama sekolah. Di asrama, mereka menerima fasilitas makanan lengkap, yaitu tiga kali makan berat dan dua kali kudapan (snack) setiap hari.
Nuni Febriyanti, Guru Bahasa Indonesia di SRMA 13, menceritakan betapa berharganya bantuan ini. Ia mengenang ada siswa yang memilih untuk tidak pulang saat libur panjang karena keterbatasan biaya. "Sayang uangnya, lebih baik uangnya buat kebutuhan di rumah aja karena untuk biaya memulangkan saya ke rumah saja sudah lumayan," kata Nuni menirukan ucapan siswanya. Bahkan, para orang tua di daerah kabupaten yang menjenguk pun harus berpatungan menyewa mobil, menunjukkan betapa sulitnya latar belakang ekonomi mereka.
Lingkungan Belajar Kondusif Lahirkan Bibit Unggul
Meski serba gratis, kualitas pendidikan di SRMA 13 tetap menjadi prioritas. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dinilai menyenangkan, dengan metode yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga melibatkan games dan kerja kelompok.
Setiap kelas hanya diisi oleh 20 siswa, menciptakan ukuran kelas ideal yang memungkinkan bimbingan guru menjadi lebih personal. Guru-guru di sekolah ini juga dikenal sangat peduli. "Guru-gurunya baik dan mereka sangat peduli akan siswa dan mengajar dengan penuh energi. Di sini kami benar-benar disayang, seolah mereka benar-benar anak mereka sendiri," puji Ruby. Selain guru mata pelajaran, setiap kelas juga didampingi dua Wali Asuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua di asrama.
Siswa didorong untuk berprestasi, baik akademik maupun nonakademik. Misfan yang menyukai Fisika dan bercita-cita menjadi Aerospace Engineer di NASA, telah terpilih mewakili sekolah dalam lomba pencak silat dan memperkenalkan program Sekolah Rakyat di Monumen Nasional. Sementara Ruby, yang bercita-cita menjadi psikolog, terpilih menjadi anggota tim paduan suara saat Upacara Hari Kemerdekaan di Istana, 17 Agustus 2025.
Kedua siswa tersebut menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah meluncurkan program sekolah rakyat. "Terima kasih kepada Pak Prabowo yang sudah menyediakan sekolah rakyat. Kami semua jadi terbantu," tutup Ruby.
Misfan juga mengajak masyarakat untuk mendukung program ini, seraya berharap.
"Semoga seluruh rakyat makin maju, makin banyak juga [Sekolah Rakyat] di daerah-daerah lain agar kesempatan ini tidak hanya untuk kami," harapnya.
Editor : Pujo Nugroho