LombokPost – Kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-12 tahun 2025 untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah global.
Acara yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bersama Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, ini menjadi panggung penegasan komitmen strategis dari otoritas moneter.
Dalam sambutannya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan semangat ISEF tidak hanya sebatas festival, tetapi harus termanifestasi dalam tiga pilar utama.
Mengedepankan spirit jama’ah (persatuan), memperluas kemanfaatan bagi umat, dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan NKRI yang Rahmatan Lil ‘Alamin.
Untuk mewujudkan visi tersebut, empat komitmen nasional yang krusial diluncurkan dan diperkuat pada ISEF 2025.
Peluncuran Masterplan Ekonomi Syariah Nasional (MESN).
Penguatan Sinergi dan Kolaborasi Pusat-Daerah untuk mempercepat pengembangan ekonomi syariah di seluruh pelosok negeri.
Peningkatan Operasi dan Pembiayaan Keuangan Syariah untuk menjangkau sektor riil secara lebih luas.
Peluncuran Database ZISWAF Terintegrasi yang diharapkan mampu memperluas pangsa dan dampak sektor ekonomi syariah nasional.
Pengakuan Global, Fokus Pada Pesantren
Penyelenggaraan ISEF kali ini sekaligus menjadi perayaan atas keberhasilan Indonesia mempertahankan posisi yang prestisius.
Berdasarkan State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025, Indonesia berhasil bertahan di Peringkat Ke-3 Dunia, membuktikan daya saingnya di bawah Arab Saudi dan Malaysia.
Lebih lanjut, Bank Indonesia sendiri mendapat pengakuan internasional dengan meraih penghargaan Best Central Bank of the Year atas dedikasinya dalam mendukung pengembangan ekonomi syariah global.
Dalam jangka panjang, Bank Indonesia menyatakan optimisme yang kuat terhadap masa depan ekonomi umat.
BI berjanji akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga yang paling strategis, yaitu pesantren.
"Kami optimistis bahwa pesantren akan menjadi pilar penting dalam membangun ekonomi syariah yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus berperan vital dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional," tutup Gubernur Perry Warjiyo.
Ia menandai fokus Bank Indonesia untuk menjadikan lembaga pendidikan Islam tradisional sebagai mesin penggerak ekonomi syariah di masa depan.
ISEF 2025 yang bertema "Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Memperkuat Kemandirian Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif" ini berlangsung hingga 12 Oktober 2025, menjadi benchmark bagi upaya kolektif bangsa dalam memajukan ekonomi syariah.
Editor : Siti Aeny Maryam