Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cuaca Panas Ekstrem Melanda Indonesia, Suhu Tembus 37,6 Derajat Celsius, Ini Penjelasan BMKG

Marthadi • Rabu, 15 Oktober 2025 | 22:47 WIB

 

JAGA KESEHATAN: Menyaksikan event balap MotoGP Mandalika di cuaca panas, harus dalam kondisi prima. Untuk menjaga kesehatan agar tidak dehidrasi, cukupi kebutuhan air minum.
JAGA KESEHATAN: Menyaksikan event balap MotoGP Mandalika di cuaca panas, harus dalam kondisi prima. Untuk menjaga kesehatan agar tidak dehidrasi, cukupi kebutuhan air minum.

LombokPost – Suhu udara di sejumlah daerah Indonesia kembali melonjak ekstrem. Dalam beberapa hari terakhir, termometer mencatat angka mencengangkan: hingga 37,6 derajat Celsius.

Fenomena ini membuat masyarakat bertanya-tanya, apa penyebabnya dan kapan panas menyengat ini akan berakhir?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kondisi panas ekstrem ini merupakan dampak kombinasi gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia.

Menurut perkiraan, cuaca terik ini masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, memaparkan bahwa pada bulan Oktober, posisi semu matahari berada di selatan ekuator.

Kondisi ini menyebabkan wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua menerima paparan sinar matahari yang lebih intens.

“Posisi ini membuat wilayah tengah dan selatan Indonesia menerima penyinaran matahari yang lebih kuat sehingga cuaca terasa jauh lebih panas,” jelas Guswanto, Selasa (15/10).

Selain itu, penguatan angin timuran atau Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat.

Akibatnya, pembentukan awan berkurang drastis dan radiasi matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa penghalang.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyebut suhu maksimum di atas 35°C kini meluas di banyak wilayah.

“Daerah yang paling terdampak antara lain Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta beberapa wilayah Papua,” ungkapnya.

Berdasarkan data BMKG, 12 Oktober 2025 menjadi salah satu puncak panas, dengan suhu 36,8 derajat Celsius tercatat di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). Sehari kemudian, Sabu Barat (NTT) mencatat suhu 36,6 derajat Celsius.

Namun, puncak panas berikutnya terjadi pada 14 Oktober 2025, ketika Majalengka (Jawa Barat) dan Boven Digoel (Papua) mencapai suhu tertinggi 37,6 derajat Celsius.

“Konsistensi suhu tinggi ini menunjukkan kondisi panas yang persisten, didukung oleh dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan,” tambah Andri.

Masih Ada Potensi Hujan Lokal

Meski panas mendominasi, BMKG mencatat potensi hujan lokal akibat aktivitas konvektif masih mungkin terjadi pada sore hingga malam hari, terutama di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan selama periode panas ekstrem, seperti mencukupi kebutuhan cairan, mengenakan pelindung diri, dan menghindari paparan langsung sinar matahari di siang hari.

“Kami imbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, seperti hujan disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari,” ujar Guswanto.

Untuk informasi cuaca terkini dan peringatan dini, BMKG mengimbau masyarakat memantau situs resmi bmkg.go.id, media sosial BMKG, atau aplikasi Info BMKG agar dapat mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas harian. (*)

Editor : Marthadi
#monsun australia #Cuaca Panas Ekstrem #bmkg #suhu 37 derajat #gerak semu matahari