Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BRIN “Gali Harta Karun” untuk Wujudkan Kemandirian Energi Nasional

Rury Anjas Andita • Sabtu, 1 November 2025 | 10:11 WIB
BRIN teliti mineral radioaktif untuk dukung kemandirian energi nuklir Indonesia dan persiapan pembangunan PLTN 2030.
BRIN teliti mineral radioaktif untuk dukung kemandirian energi nuklir Indonesia dan persiapan pembangunan PLTN 2030.

LombokPost - Langkah BRIN memperkuat riset mineral radioaktif kian strategis dalam mewujudkan kemandirian energi nuklir nasional.

Melalui eksplorasi, karakterisasi, dan pengolahan mineral berunsur uranium, thorium, hingga logam tanah jarang (LTJ), BRIN menyiapkan fondasi menuju energi bersih dan berkelanjutan di masa depan.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menegaskan pentingnya penguasaan teknologi siklus bahan bakar nuklir dari hulu hingga hilir.

“Kita tengah menuju Indonesia dengan PLTN pada 2030. Kemandirian ini sangat penting. Kita harus tahu di mana sumber mineral uranium dan thorium berada, bagaimana mengelolanya, hingga menjadi bahan baku nuklir, memanfaatkannya di PLTN, sampai mengelola limbahnya,” ujarnya dalam Nuclear Talk bertajuk “Menggali Potensi Mineral Radioaktif Berasosiasi dengan Unsur Kritis serta Pengolahannya Menuju Kemandirian Nasional”, di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Kamis (30/10).

Menurutnya, riset yang dilakukan BRIN tidak boleh berhenti di laboratorium. “Harapannya, riset teknologi yang kita kuasai dapat diaplikasikan dan bersinergi dengan industri maupun akademisi. Jadi, ketika PLTN dibangun di Indonesia, kita sudah siap secara teknologi,” tambahnya.

Potensi “Harta Karun” Mineral Radioaktif di Tanah Air

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN, I Gde Sukadana, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar mineral radioaktif dan unsur kritis yang belum tergali optimal. Faktor geografis dan iklim tropis mendukung pembentukan mineral berharga seperti thorium dan LTJ (logam tanah jarang).

“Kelembaban tinggi di daerah tropis membuat unsur-unsur resisten, seperti thorium dan LTJ, terkayakan di tanah lapuk. Misalnya, di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, terdapat sekitar 800 km persegi area yang kaya akan LTJ dan mineral radioaktif,” paparnya.

Dengan detektor gamma, peneliti BRIN memetakan persebaran uranium, thorium, dan kalium secara akurat.

“Metode analisis yang dimiliki BRIN memungkinkan eksplorasi dilakukan dengan sangat detail, sehingga batuan yang mengandung uranium dan thorium tidak akan terlewatkan,” tambahnya.

 

Kolaborasi BRIN Tingkatkan Kemurnian Thorium Hingga 99 Persen

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya PRTBNLR BRIN, Kurnia Setiawan Widana, menuturkan bahwa mineral monasit menjadi sumber utama LTJ di Indonesia.

“Hasil analisis menunjukkan mineral ini, yang banyak dihasilkan dari penambangan timah di Bangka Belitung, mengandung LTJ hingga 56–70 persen,” ungkapnya.

Kolaborasi antara PRTBNLR dan Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN telah membuahkan hasil signifikan. PRTBNLR fokus meneliti monasit dan kerak timah, sedangkan PRTM menggali potensi unsur kritis dari fly ash, bottom ash, dan residu penambangan bauksit (red mud).

“Kolaborasi ini telah berhasil mengekstraksi thorium hingga 99 persen kemurniannya. Artinya, thorium kita sudah layak dan siap jika nanti digunakan untuk PLTN,” jelasnya.

Editor : Rury Anjas Andita
#BRIN #nuklir #kemandirian energi nasional #harta karun