LombokPost - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, proses verifikasi dan pemutakhiran data penerima BLT Kesra masih berlangsung.
Hingga awal November, sudah ada 11 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang dinyatakan layak menerima bantuan.
“Insyaallah masih dalam proses. Kita harapkan di bulan ini selesai seluruh data-datanya itu, nanti pada akhir November kita mulai cairkan,” ujar Gus Ipul di Bekasi.
Menurutnya, pemerintah menargetkan penyaluran BLT Kesra Rp900 ribu kepada sekitar 18 juta keluarga penerima manfaat (KPM).
Jika dihitung secara keseluruhan, program BLTS ini menjadi salah satu bansos terbesar dalam sejarah Indonesia, dengan total penerima mencapai 35 juta keluarga atau sekitar 140 juta jiwa di seluruh nusantara.
Disalurkan Lewat Bank Himbara dan PT Pos
Penyaluran BLT Kesra 2025 dilakukan secara bertahap melalui bank-bank Himbara (Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN) serta PT Pos Indonesia.
Semua proses distribusi mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), basis data terpadu hasil kolaborasi Badan Pusat Statistik (BPS), Kemensos, dan pemerintah daerah.
Data DTSEN menjadi acuan utama agar BLT Kesra Rp900 ribu benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
Seluruh data telah melalui proses verifikasi, validasi, dan pembaruan untuk menghindari penerima ganda maupun salah sasaran.
“Data yang valid menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran. Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan BPS dan daerah,” jelas Gus Ipul.
Jaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi
Program BLT Kesra 2025 bukan sekadar bantuan tunai, tapi juga langkah strategis pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat pertumbuhan ekonomi, serta memperluas jangkauan perlindungan sosial.
Sebelumnya, di pertengahan tahun, pemerintah juga telah menyalurkan penebalan bantuan sosial bagi penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebesar Rp400 ribu per keluarga.
Dengan adanya BLT Kesra Rp900 ribu pada akhir tahun ini, diharapkan masyarakat kecil tetap kuat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan bisa menutup akhir tahun dengan stabilitas ekonomi yang lebih baik. (***)
Editor : Alfian Yusni