LombokPost – Di tengah gelombang revolusi kecerdasan buatan (AI), Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kunci utama transformasi ekonomi terletak pada kesiapan talenta digital yang beretika dan gesit, bukan sekadar kecanggihan teknologi itu sendiri.
Fokus ini mengemuka dalam Forum Human Capital Indonesia (FHCI) Connect Expert Series ke-4 bertajuk “Humanizing Digital Transformation” di Kantor Pusat PLN.
Acara ini menjadi wadah strategis bagi BUMN untuk menyusun roadmap talenta masa depan.
Mewakili Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital, Sekretaris Deputi Pujo Setio, menyampaikan pandangan tajam.
"Apapun teknologinya, kekuatan manusia harus tetap menjadi landasan utama. Tanpa menyertakan aspek kemanusiaan dalam digitalisasi, kita berisiko tersesat dalam perubahan teknologi," terangnya.
Pernyataan ini menekankan bahwa meski pengembangan AI di Indonesia berjalan cepat, program pelatihan harus diperkuat dengan etika penggunaan teknologi.
Pujo Setio menekankan pentingnya kesiapan horizontal kesiapan setiap individu di semua level dalam menghadapi laju kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi.
Infrastruktur Digital Siap Mendukung Lonjakan 8 Persen
Kesiapan talenta digital ini bukan tanpa alasan. Pemerintah telah menetapkan target ambisius: pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Baca Juga: Yuva Lokahita UNRAM Pacu Digitalisasi UMKM dan Gula Semut di Desa Buwun Sejati
Untuk mencapai itu, sektor manufaktur dan daya beli masyarakat harus didorong kuat, dengan ekonomi digital menjadi pilar utamanya.
Data menunjukkan bahwa infrastruktur digital Indonesia sudah sangat matang:
Penetrasi internet nasional diproyeksikan mendekati 80 persen pada 2024.
Perekaman Identitas Kependudukan Digital (IKD) sudah menyentuh angka di atas 98 persen.
Angka ini menjadi landasan kuat untuk mengintegrasikan layanan digital ke sektor krusial, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga layanan publik.
Perluasan Jangkauan Talenta AI ke Luar Jawa
Saat ini, pengembangan talenta AI masih terkonsentrasi di beberapa wilayah seperti Jawa, Kepulauan Riau, dan Kalimantan. Untuk mendistribusikan talenta secara merata dan menjalankan Buku Putih Strategi Nasional Ekonomi Digital ("Stranas Ekodig"), FHCI mengusulkan forum kolaboratif yang melibatkan Akademisi, Pemerintah (Pusat dan Daerah), dan Korporasi BUMN/Swasta.
Kolaborasi ini bertujuan menjaring talenta profesional digital dan memastikan pengambilan keputusan yang gesit di korporasi, yang menggabungkan struktur hierarki tradisional dengan model tim kerja yang adaptif.
"Forum pembangunan dan transformasi talenta digital bukan sekadar tugas satu pihak, melainkan hasil dari sinergi lintas sektor. Pemerintah, korporasi, akademisi, dan startup harus bergerak bersama membangun ekosistem yang inklusif dan berdaya saing," kata Pujo Setio, Sekretaris Deputi Kemenko Perekonomian
Kehadiran para pimpinan Human Capital dan Teknologi Informasi dari BUMN besar, seperti PLN, BTN, dan BRI, dalam forum ini memperlihatkan keseriusan korporasi negara untuk menjadi motor penggerak ekosistem talenta digital, menjadikan faktor manusia sebagai fondasi utama untuk mencapai target ekonomi tertinggi.
Editor : Siti Aeny Maryam