Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Krisis Literasi Digital: Indeks Masih 'Kuning', Indonesia Terancam Badai Hoaks Ai!

Nurul Hidayati • Minggu, 9 November 2025 | 23:04 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

lombokPost – Indonesia berada di bawah ancaman serius di ruang digital.

Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat literasi digital masyarakat tidak sebanding dengan kebebasan informasi yang diterapkan (politik open sky).

Ini membuka celah lebar bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi canggih berbasis Kecerdasan Buatan (AI).

Menurutnya, meski langit informasi Indonesia dibuka lebar, kecakapan digital masyarakat masih jauh dari memadai.

“Tingkat literasi digital Indonesia hari ini masih berada pada indeks 3,5 dari angka 5. Masih banyak ujaran kebencian dan cacimaki di ruang digital kita. Itulah indikator bahwa masyarakat belum memiliki kecakapan memadai dalam menyaring informasi," tegas Ismail Cawidu.

Ancaman Baru: Manipulasi Video 'Klipper' Berbasis AI

Ismail Cawidu mencontohkan bahaya paling baru yang meresahkan publik: maraknya praktik manipulasi konten yang sangat sulit dideteksi.

"Sekarang banyak video-video yang diklipper, dipotong lalu disambungkan, bahkan diberikan suara dengan AI. Itu membuat masyarakat resah dan bisa menghancurkan reputasi seseorang hanya dalam sekejap," jelasnya.

Fenomena ini menjadi tantangan besar lantaran menyebabkan masyarakat terbelah: separuh langsung percaya, separuh lagi meragukan keaslian konten tersebut. Kepercayaan yang tergerus ini menjadi harga mahal dari rendahnya melek digital.

Media Jadi 'Garda Terdepan' Penyelamat Etika Publik

Menyikapi krisis ini, Stafsus Menteri Agama menyerukan perlunya gerakan masif untuk meningkatkan kecakapan publik dalam berdigital. Ia menekankan bahwa masyarakat harus diajarkan cara memverifikasi informasi (tabayyun) dan tidak mudah terperangkap pada konten yang viral.

"Tugas kita semua adalah meningkatkan literasi media bagi masyarakat. Peran media sangat penting untuk menjelaskan, meluruskan, dan mengedukasi, agar masyarakat tidak mudah terjebak ketidakpintaran digital," ujarnya.

Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat literasi digital masyarakat tidak sebanding dengan kebebasan informasi yang diterapkan (politik open sky).
Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat literasi digital masyarakat tidak sebanding dengan kebebasan informasi yang diterapkan (politik open sky).

Ia menutup dengan pesan tegas: "Pertahanan kita ada di masyarakat yang melek informasi." Media arus utama diharapkan menjadi garda terdepan, menyajikan informasi yang jernih dan edukatif, agar ruang digital Indonesia tidak dikuasai oleh konten negatif.

Editor : Siti Aeny Maryam
#digital #viral #konten #kecerdasan buatan #ai