LombokPost - Sebagian anggota kelompok Tabitha Neema Christy memilih berhenti seusai mengajar anak-anak marginal.
Namun, perempuan asal Riau, Pekanbaru itu, bersikukuh melanjutkan kegiatannya. Dia mengajak teman-teman terdekat mendirikan Wepose yang kini telah mendampingi 500 anak marginal
Ucapan Terima Kasih dari Orang Tua Anak yang Didampingi yang Paling Berkesan.
WEPOSE Indonesia sudah berdiri enam tahun lalu. Namun, bagi Tabitha, pendiri komunitas yang bergerak mendampingi anak marginal itu, ucapan terima kasih dari orang tua anak yang didampingi adalah yang paling berkesan.
”Ketika ibu-ibu bilang ‘makasih ya kakak, kalau tidak ada kakak-kakak, mungkin anak-anak tidak percaya diri’, itu sangat berharga,” ucapnya.
Tabitha mendirikan Wepose setelah dia merantau dari kampung halamannya di Pekanbaru, Riau, untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).
Dia mulai resah melihat warga yang hidup dalam keterbatasan. Pendidikannya rendah. Ekonominya lemah. Setiap hari mereka harus berpeluh keringat untuk bertahan hidup.
Puncaknya, ketika dia mendapatkan tugas kuliah kelompok. Saat teman-temannya memilih mengajar di TK, Tabitha meminta izin dosennya untuk turun ke kampung-kampung untuk mengajar anak marginal.
Bersama kelompoknya, dia melakukan need analysis dan survei ke berbagai titik. Setelah tugas rampung, sebagian anggota memilih berhenti. Tapi, Tabitha merasa kegiatan itu tak boleh berhenti. ”Saya ajak sahabat-sahabat terdekat untuk membangun gerakan lebih serius,” paparnya.
Pada 24 Oktober 2019, lahirlah Wepose-singkatan dari We Are Different, But One Purpose. Kegiatannya tersebar di enam titik. Seperti pinggiran rel kereta api (KA) Wonokromo, Kalisari Damen, Dupak Magarsari, Keputran, SD Dumas, dan Kuburan Rangkah. Tantangannya berbeda-beda.
”Di pinggir rel, agresivitas anak cukup tinggi. Di Rangkah banyak anak stunting, mata kuning, rambut kering, dan tidak rutin sekolah,” jelas Tabitha.
Program yang dijalankan menyentuh banyak aspek. Kegiatan wajib seperti Belajar Bareng Kakak Asuh (BBKA) dan Bermain dan Edukasi (Beraksi) berlangsung setiap pekan. Ada juga We Go Outside, kegiatan belajar di luar kelas yang membawa anak-anak ke museum, pabrik, hingga restoran. Itu merupakan tempat yang sebelumnya tidak pernah didatangi peserta.
Untuk orang tua ada Parent Up yaitu edukasi parenting serta cek kesehatan berkala. Sementara, untuk kebutuhan dasar, Wepose menyalurkan bantuan melalui program We Love and We Share.
Saat ini, lebih dari 350 anak aktif mengikuti pengajaran. Sedangkan, total yang pernah dibina sejak 2019 mencapai lebih dari 500 anak. Dari sisi relawan, jumlahnya sudah menyentuh ribuan. ”Suara Arek Nusantara saja 400 volunteer. Festival Anak 300. Dari tahun ke tahun jumlahnya pasti lebih dari seribu,” tutur Tabitha.
Kunci Wepose bertahan enam tahun tanpa putus adalah sistem pendampingan internal. Mereka punya HRD, mentoring, konseling, evaluasi tiap tiga sampai enam bulan, sampai we healing di akhir tahun. Yang tidak kalah penting, kata Tabitha, peran pemimpin dalam organisi menjadi yang utama. ”Leader itu energi. Kalau energinya turun, volunteer ikut turun. Kalau capek, istirahat dulu, jangan hilang,” tegas perempuan 25 tahun itu.
Tahun ini, Wepose resmi berbadan hukum sebagai Wepose Indonesia. Gerakannya kini tidak hanya berkutat di Surabaya, tetapi mulai menyebar ke berbagai kota melalui program campaign: Jogjakarta, Kalimantan, Banten, Jakarta, hingga Pekanbaru. ”Tujuannya agar setiap daerah punya komunitas yang berkelanjutan, jadi rumah aman untuk anak-anak,” kata Tabitha.
Bagi Tabitha, pahlawan masa kini adalah mereka yang hadir ketika dibutuhkan. ”Relawan itu menciptakan momen, bukan menunggu momen,” ujarnya. (Juliana Christy Kakiay, Surabaya/aph/JPG/r3)
Editor : Pujo Nugroho