LombokPost - Polda Metro Jaya menggelar ungkap kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, Selasa (11/11).
Polisi menyebut, mereka telah menjinakkan tiga bom rakitan aktif di lokasi kejadian. Petugas juga tengah meneliti bahan peledak yang digunakan terduga pelaku.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengatakan, setelah dua kali ledakan, pihaknya mengamankan dan mensterilkan TKP. Pihaknya juga menjinakkan tiga bom rakitan aktif di lokasi kejadian.
”Tiga bom ditemukan di dua titik TKP,” paparnya.
Polisi juga memeriksa bahan peledak. Tujuannya untuk mengetahui jenis serta daya ledaknya.
”Pemeriksaan dilakukan bersama Puslabfor Polri,” jelas Asep.
Baca Juga: TNI AL Bertindak Cepat Tangani Ledakan SMAN 72 Jakarta
Beraksi Sendirian
Menurut Asep, siswa terduga pelaku beraksi sendirian. Dia juga tidak terhubung dengan jaringan teroris.
Dalam ungkap kasus kemarin, Polda Metro Jaya juga menunjukkan barang bukti yang ditemukan di lokasi. Ada tiga tas, merah, biru, dan hijau. Tas merah kondisinya sudah hancur. Selain itu, petugas juga memperlihatkan beragam gambar serta senjata mainan.
Baca Juga: Ledakan Mobil Guncang Delhi Lama, Delapan Orang Tewas dan 19 Luka-Luka
Respons Kemendikdasmen
Upaya pencegahan perundungan secara terstruktur telah disiapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti lewat penyempurnaan permendikbud terdahulu. Pencegahan bullying bakal dibuat lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif.
Revisi itu, kata Mu’ti, perlu karena angka kekerasan di lembaga pendidikan masih tinggi. Meski, tidak semua kasus perundungan terjadi di dalam lingkungan sekolah. Ada juga di luar satuan pendidikan tapi korban ataupun pelaku merupakan pelajar. ”Karena itu, kita berupaya agar peristiwa yang di Jakarta ini mudah-mudahan menjadi yang pertama dan yang terakhir,” ujarnya Selasa (11/11).
Mu’ti menambahkan, nantinya, setiap siswa akan memiliki guru wali yang tugasnya berbeda dengan wali kelas. Guru wali berperan seperti guru bimbingan konseling. Pengajar itu harus mengenali potensi murid, memitigasi masalah pada siswa, hingga penghubung antara sekolah dengan orang tua yang selama ini belum terjalin dengan baik. Dengan begitu, masing-masing anak bisa berkonsultasi head to head, heart to heart kepada guru.
Diharapkan dengan komunikasi yang baik, siswa bisa merasa berada di rumah saat di sekolah. Mereka merasa diterima apapun keadaannya, fisiknya, ekonominya, dan capaian akademiknya. ”Nanti semua guru itu harus punya tugas bimbingan konseling, walaupun dia bukan guru BK,” ujar Mu’ti. Para guru akan diberikan bimbingan khusus untuk dapat mendalami ilmu konseling.
Menurut Mu’ti, pendekatan dalam hal pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan tak melulu bersifat akademik. Karena itu, pendekatan spiritual juga akan diberikan kepada para murid.
Disinggung soal pesan Presiden Prabowo Subianto untuk menaruh perhatian terhadap dampak dari media sosial (medsos) dan rencana pembatasan game mengandung unsur kekerasan, Mu’ti menyebut, hal itu harus dibicarakan secara mendalam dengan empat kementerian terkait. Mulai dari Komdigi, Kemenag, Kementerian PPPA, dan Kemendikdasmen. Mengingat, pembatasan itu adalah ranah Komdigi.
Dia menilai, game online ibarat pedang bermata dua. Ada manfaatnya, namun ketika tidak diawasi akan menjadi masalah tersendiri.
Penanganan Terbaik
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i ikut menanggapi ledakan bom di SMAN 72 Jakarta. Dia menegaskan, pemerintah berfokus pada penanganan dampak dari kejadian tersebut.
Menurut Romo, pemerintah terus mengupayakan penanganan terbaik dari insiden tersebut. Terutama, puluhan siswa yang menjadi korban ledakan. Sedangkan untuk terduga pelaku, akan ditangani kepolisian dengan sebaik-baiknya sesuai peraturan. ”Kasus seperti itu tidak boleh terulang lagi. Apalagi yang jadi pelaku peledakan bom adalah siswa sendiri,” ucapnya.
Romo menekankan pentingnya pembelajaran yang baik di sekolah. Para guru tidak boleh hanya berfokus pada aspek keilmuan saja ketika mengajar. Dia meminta guru semua mata pelajaran untuk mengajarkan nilai-nilai karakter.
Misalnya karakter persaudaraan yang baik dengan sesama murid. Sehingga, bisa mencegah bullying. ”Menurut saya porsi pendidikan karakter 80 persen. Sisanya baru keilmuan,” katanya.
Sehingga, lanjut dia, sekolah tidak hanya mencetak murid yang pandai secara keilmuan. Tetapi juga memiliki karakter yang baik dan kuat. (ygi/mia/wan/aph/JPG/r3)
Editor : Pujo Nugroho