LombokPost - Desakan islah dari sejumlah pihak belum membuat jajaran Syuriah PBNU bergeming.
Kini, beredar kabar bahwa Syuriah menyiapkan rapat pleno pada 9-10 Desember di Hotel Sultan, Jakarta, untuk memilih Ketua Umum PBNU pengganti Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Yahya menilai pertemuan itu tidak sesuai aturan organisasi.
Surat undangan rapat pleno yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar dan Katib KH Ahmad Tajul Mafakhir itu telah beredar luas. Pertemuan tersebut bakal diikuti banyak peserta karena mengundang seluruh komponen NU. Termasuk, badan otonom (Banom) NU.
Surat itu langsung direspons Yahya di kantor PBNU Jakarta, Rabu (3/12). Menurut dia, rapat pleno tersebut tidak sesuai aturan perkumpulan. Karena, rapat pleno harus mendapatkan pengesahan jajaran Syuriyah dan Tanfidziah PBNU.
”Saya masih sebagai Ketua Umum PBNU,” katanya.
Agenda rapat pleno pekan depan itu, kata Yahya, tidak sesuai prosedur. Karena tidak ada persetujuan atau tanda tangannya.
Rotasi Sekjen
Dia juga menjelaskan tentang rotasi Saifullah Yusuf dari posisi Sekjen PBNU. Keputusan itu diambil untuk kepentingan roda organisasi.
Menurut Yahya, sekjen harus fokus di kantor. Sebab, tugasnya sangat banyak. Salah satunya, menandatangani surat-surat keputusan organisasi NU di tingkatan daerah.
Laporan Keuangan. Yahya juga menanggapi soal tudingan adanya aliran uang Rp 100 miliar yang masuk ke PBNU. Uang tersebut diduga bagian dari pencucian uang mantan Bendahara Umum PBNU, yaitu Mardani H. Maming. Dia mengaku siap diperiksa. ”Soal apakah pribadi saya bersalah atau tidak, silahkan diperiksa,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia meminta tuduhan yang beredar saat ini dibahas sesuai aturan organisasi. ”Silakan dibuktikan dan mari diproses sesuai tatanan organisasi,” terangnya.
Rapat pleno tersebut digelar sebagai tindak lanjut rapat harian Syuriyah PBNU. Poin utamanya adalah meminta Gus Yahya mundur sebagai Ketum PBNU dalam waktu tiga hari. Tapi, Yahya tidak kunjung mundur. Sampai akhirnya Syuriyah memutuskan mencopot jabatannya sebagai Ketum PBNU. (wan/aph/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji