Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rupiah Diproyeksi Bergerak Rp16.400–Rp17.500 Per USD

Lombok Post Online • Kamis, 8 Januari 2026 | 10:31 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

LombokPost - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan mereda pada 2026. Sejumlah tekanan sentimen negatif global yang makin tinggi membuat rupiah berpotensi bergerak lebar di kisaran Rp16.400 hingga Rp17.500 per dolar AS (USD).

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelebaran rentang pergerakan rupiah mencerminkan kondisi ekonomi global yang belum stabil.

Ketidakpastian tersebut diperkirakan terus membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Dampaknya langsung terasa ke pelemahan rupiah,” ujar Ibrahim pada Rabu (7/1).

Emas Tembus Rp 3,8 Juta 

Seiring tekanan pada rupiah, harga logam mulia di dalam negeri juga diproyeksi melonjak. Ibrahim memperkirakan harga emas berpeluang menembus Rp 3,8 juta per gram pada 2026. Hal itu didorong meningkatnya minat investor terhadap aset aman.

Lima Faktor Pelemahan

Menurut dia, setidaknya ada lima faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah sekaligus mendorong kenaikan harga emas dunia. Faktor tersebut meliputi ketegangan geopolitik, dinamika politik Amerika Serikat, arah kebijakan bank sentral AS (The Fed), perang dagang, serta ketidakseimbangan suplai dan permintaan global.

Dari berbagai faktor itu, geopolitik dinilai menjadi pemicu paling dominan. Eskalasi konflik yang meluas membuat investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan mengalihkan portofolio ke dolar AS serta emas. “Geopolitik sekarang sudah melebar dan itu sangat memengaruhi pasar,” terangnya.

Perbedaan Pandangan Moneter AS

Rabu (7/1), indeks dolar AS tercatat menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dari sisi kebijakan moneter, terjadi perbedaan pandangan di internal The Fed. Anggota Dewan Gubernur The Fed Stephen Miran menilai aktivitas bisnis Negeri Paman Sam masih solid, namun kondisi tersebut justru membuka ruang penurunan suku bunga. Sebaliknya, Presiden Federal Reserve Richmond, Thomas Barkin, menyebut suku bunga dana Fed saat ini berada di level netral.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar melihat peluang sebesar 82 persen bahwa suku bunga AS akan ditahan pada pertemuan 27–28 Januari 2026. Meski demikian, ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun ini tetap menopang harga emas di level tinggi. (mim/dio/JPG/r3)

 

Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS

(Periode 22 Desember 2025 - 7 Januari 2026)

22 Desember 2025 Rp 16.773

23 Desember 2025 Rp 16.790

⁠24 Desember 2025 Rp 16.767

⁠29 Desember 2025 Rp 16.788

⁠30 Desember 2025 Rp 16.782

31 Desember 2025 Rp 16.720

2 Januari 2026        Rp 16.725

5 Januari 2026        Rp 16.762

6 Januari 2026        Rp 16.762

 ⁠7 Januari 2026       Rp 16.785

Sumber : Bank Indonesia

Editor : Kimda Farida
#Indonesia #nilai tukar #rupiah #dolar #Negara