Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Makan Menu MBG yang Dibawa Anak, Sudarti Alami Diare dan Muntah Selama Tiga Hari

Lombok Post Online • Rabu, 14 Januari 2026 | 11:02 WIB
SEMANGATI PASIEN : Menteri HAM RI Natalius Pigai saat menjenguk pasien yang diduga keracunan makanan di RSUD dr Soedjati Purwodadi, Selasa (13/1).
SEMANGATI PASIEN : Menteri HAM RI Natalius Pigai saat menjenguk pasien yang diduga keracunan makanan di RSUD dr Soedjati Purwodadi, Selasa (13/1).

LombokPost – Tak hanya siswa yang diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng). Sejumlah wali murid dan guru juga menjadi korban.

Sudarti, salah satunya. Dia harus beristirahat total selama tiga hari akibat mual, muntah, dan diare hebat usai menyantap MBG milik anaknya pada Jumat (9/1).

Sudarti menyantap MBG milik anaknya yang dibawa pulang.

”Anak saya dapat MBG Jumat. Pas pulang nggak dimakan di sekolah, terus saya yang makan,” paparnya.

Menu yang dimakan yaitu nasi kuning, abon, dan telur dadar. Tidak ada keanehan pada rasa masakan tersebut. Ketika malam, tubuhnya mulai bereaksi.

Di saat bersamaan, HP Sudarti mulai ramai wali murid yang mengeluh mual. Ada pula yang diare. Sudarti belum menyadari bahwa gejala yang dia rasakan akibat makanan yang disantap. ”Saya nggak tahu. Saya kira biasa saja. Awalnya mikir masuk angin,” katanya.

Sudarti mulai tak enak badan saat malam. Lalu, disusul diare. Esok harinya, kondisinya kian memburuk. Dia muntah  berulang kali, disertai rasa mulas hebat.

”Habis muntah, perut mules, terus muntah lagi. Badan juga terasa panas,” ujarnya.

Warga Desa Penadaran itu sempat dikeroki karena mengira itu akibat kelelahan atau masuk angin. Namun, kondisinya tak kunjung membaik. Tubuhnya lemas karena terus menerus diare.

Baru setelah membaca kembali percakapan di grup WA, dia akhirnya tahu banyak wali murid lainnya yang sakit.

”Ternyata bukan saya saja. Teman-teman wali murid juga diare,” ujarnya.

Baca Juga: Libur Lebaran, MBG Fokus untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita, Prabowo Intruksikan Tak Ada Lagi Kasus Keracunan

Hingga kini, Sudarti mengaku belum sepenuhnya pulih. Perutnya masih sering  sakit.

”Sekarang sudah mendingan, tapi rasanya belum enak. Masih sering mules,” katanya.

Sudarti adalah satu dari ratusan orang dewasa yang diduga keracunan MBG.

Dari data Desa Penadaran, total 138 korban yang mengalami keluhan serupa. Perinciannya, 125 siswa, 10 guru, dan tiga wali murid di SDN 1, SDN 2, dan SDN 3 Penadaran.

Gejala yang dialami korban sama. Yaitu mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah mengonsumsi menu MBG.

Meski kondisi para korban kini sudah stabil, peristiwa itu memberikan trauma.

Kondisi di Mojokerto

Data Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mojokerto hingga kemarin (13/1) menyebut, total korban dugaan keracunan menu soto MBG di sejumlah sekolah mencapai 780 orang.

Sebanyak 533 orang berasal dari lima lembaga pendidikan di bawah naungan dispendik. Sekolah itu menerima suplai MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 3, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo. ”Yang terdampak siswa, guru, dan wali murid atau keluarga siswa,” kata Plt Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Yoi’e Afrida Soesetyo Djati kemarin.

Lima sekolah itu adalah SMPN 2 Kutorejo, SMP Al Hidayah, SDN Wonodadi 1 dan Wonodadi 2, serta SDN Singowangi. ”Paling banyak di SMPN 2 Kutorejo. Totalnya 293 anak dari jumlah penerima (MBG) 666 siswa,” kata Afrida.

Menurut dia, 164 siswa merasakan gejala ringan. Sementara, 68 murid gejala sedang. ”35 anak masih menjalani rawat inap, dan 26 orang lainnya merupakan keluarga siswa yang ikut terdampak,” tutur Afrida.

Saat ini, kata Afrida, pembelajaran di sekolah tetap berjalan normal. Namun, bagi siswa terdampak dan tidak bisa masuk sekolah, mendapat dispensasi dan mengikuti pembelajaran susulan.  ”Ini menjadi evaluasi kita bersama, agar ke depan benar-benar bisa menjadi sekolah yang aman bagi anak,” paparnya.

Sementara itu, Kemenag Kabupaten Mojokerto mencatat ada 247 orang yang diduga keracunan soto MBG. Korban  tersebar di enam madrasah. ”Tidak hanya siswa, beberapa guru dan pengasuh (pesantren) juga ada yang mencicipi menu, sehingga ikut terdampak,” jelas Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Kabupaten Mojokerto Masruchan.

Enam madrasah yang menerima MBG itu, yakni RA Nurul Hidayah Wonodadi, MI Nurul Hidayah Wonodadi, MTS Mahad Annur Singowangi, MTS Nurul Hidayah Wonodadi, MA TI Berlian Wonodadi, serta MA Mahad Annur Singowangi. ”Kalau untuk madrasah dan ponpes, penerimanya tetap dihitung berdasarkan jenjang madrasah, karena per siswa,” ujar Masruchan.    

Menurut dia, dari keterangan enam lembaga tersebut, rentang waktu distribusi hingga konsumsi MBG juga berbeda. Di RA Nurul Hidayah, misalnya. MBG diterima  pukul 08.00 WIB dan baru dikonsumsi satu jam kemudian. ”Untuk jenjang MTs dan MA ada yang distribusinya pukul 09.00-10.00, dan rata-rata baru dikonsumsi setelah Jumatan,” papar Masruchan.

Hingga kemarin, siswa dan orang tua serts tenaga pendidik masih menjalani perawatan di 16 fasyankes. Itu tersebar di RSUD Prof Dr Soekandar, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, RSI Arofah, RSUD Sumberglagah, RS Kartini, RS Mawaddah, RS Sidowaras, RSI Sakinah, RS Dian Husada, Puskesmas Kutorejo, Puskesmas Gondang, Puskesmas Pacet, Puskesmas Bangsal, dan Puskesmas Dlanggu.

Tak Kantongi SLHS

Puluhan SPPG yang beroperasi di Kabupaten Mojokerto diketahui tidak mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati membenarkan bahwa mayoritas SPPG di Kabupaten Mojokerto memang belum mengantongi SLHS. Dari 77 SPPG yang sudah beroperasi, baru satu SPPG yang memenuhi sertifikat kelayakan. ’’Hanya satu yang memiliki SLHS. Sedangkan lainnya masih belum ada SLHS-nya, tetapi sudah ada 11 yang sudah pada tahap rekomendasi laik sehat,’’ ungkapnya, Selasa (13/1).

Dyan menambahkan, mekanisme perizinan SPPG saat ini masih mengalami penyesuaian. Izin laik sehat untuk SPPG disederhanakan dan tidak memerlukan Nomor Induk Berusaha (NIB). Namun, karena sistem perizinan melalui OSS sempat dialihkan menjadi manual, diperlukan kejelasan pihak yang berwenang memproses izin lanjutan. (int/oce/ori/fen/ris/aph/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#masakan #diare #Makan Bergizi Gratis #Mbg #keracunan #menu