Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

IHSG Ambruk 7 Persen, Investor Panik, Pakar Bongkar Peluang Rebound Mengejutkan

Marthadi • Rabu, 28 Januari 2026 | 21:47 WIB

Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
LombokPost - Pasar modal Indonesia terguncang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 7 persen dalam sehari, memicu gelombang panic selling di kalangan investor ritel.

IHSG anjlok lebih dari 7 persen, memicu kepanikan luas, terutama di kalangan investor ritel.

Founder & CEO Astronacci International Prof. Dr. Gema Goeyardi, menyebut kejatuhan tajam ini dipicu oleh fenomena Defect System—sebuah kondisi pasar ekstrem yang mendorong aksi jual panik secara masif, khususnya pada saham-saham dengan valuasi yang sudah terlalu tinggi.

Menurut Gema, situasi kali ini memiliki kemiripan dengan kondisi pasar saat pengumuman Tariff War 2025, ketika sentimen negatif menyebar luas tanpa diimbangi analisis fundamental yang memadai.

Meski tekanan pasar tergolong besar, Gema menegaskan investor ritel tidak perlu panik berlebihan.

Ia menilai IHSG saat ini telah menyentuh area support penting di kisaran 8.242, yang berpotensi memicu rebound jangka pendek untuk menutup gap harga yang baru terbentuk.

“Pada titik ini, waktu dan harga bertemu. IHSG memiliki peluang untuk menguat dalam jangka pendek. Namun koreksi besar belum sepenuhnya selesai. Strategi jauh lebih penting daripada spekulasi,” tegas Gema.

Strategi Hadapi Pasar Bergejolak

Dalam kondisi pasar yang tidak stabil, Gema merekomendasikan sejumlah langkah strategis bagi investor:

- Memantau area support kunci dan menunggu konfirmasi rebound sebelum entry

- Menghindari saham-saham yang sudah overvalued

- Fokus pada saham berfundamental kuat yang sedang berada di harga diskon

- Menggunakan pendekatan Time Trading untuk menentukan timing entry dan exit secara lebih terukur

Menariknya, di tengah tekanan IHSG, sektor perbankan justru dinilai masih relatif underperform dan berpotensi menjadi penopang stabilitas indeks ke depan.

Berbeda dengan saham-saham konglomerasi yang mayoritas sudah berada di area overbought dan mulai melemah, sektor perbankan dinilai masih memiliki ruang penguatan yang lebih sehat.

BBRI Jadi Sorotan

Salah satu saham yang mencuri perhatian adalah BBRI. Gema menilai saham bank pelat merah ini masih berpeluang melanjutkan penguatan menuju area resistance Rp4.060, selama harga mampu bertahan di atas support Rp3.440.

Kondisi ini menjadikan saham perbankan sebagai pilihan defensif sekaligus oportunistik di tengah fase koreksi IHSG.

“Ketika investor ritel panik saat pasar jatuh, time trader tidak ikut panik. Kami tahu di mana dan kapan harga berpotensi berhenti turun,” ujar Gema.

Pada akhirnya, kejatuhan pasar bukan soal siapa yang paling cepat panik, melainkan siapa yang paling siap membaca momentum. Dalam fase volatil seperti ini, waktu dan strategi adalah kunci utama.

Editor : Marthadi
#BBRI #panic selling #rekomendasi saham #ihsg anjlok #saham hari ini