LombokPost - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendadak ambruk Rabu (28/1). Hingga sesi dua perdagangan berakhir, IHSG terkoreksi 7,35 persen di level 8.320.
Saham-saham berkapitalisasi besar pun rontok. Bahkan, sebanyak 96 saham terkunci minus 15 persen atau auto reject bawah (ARB).
Pada awal sesi dua pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat membekukan perdagangan saham selama 30 menit. Pembekuan sementara atau trading halt itu dilakukan karena penurunan IHSG sudah menyentuh angka 8 persen.
’’BEI melakukan upaya ini (pembekuan sementara, Red) dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien,’’ ujar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam siaran persnya kemarin.
Penurunan tajam IHSG terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI), pengelola indeks global, mengumumkan pembekuan sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Hal itu seiring dengan kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham dan aspek investabilitas pasar.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai, koreksi IHSG merupakan reaksi langsung atas keputusan MSCI tersebut. Menurut dia, pasar merespons negatif karena ada potensi terhentinya aliran dana pasif dari pengelola dana global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Hans menjelaskan, kondisi ini memicu aksi ambil untung (take profit) jangka pendek oleh pelaku pasar, terutama pada saham-saham yang sebelumnya naik karena ekspektasi masuk atau naik kelas di indeks global tersebut. "Saham-saham yang naik karena harapan masuk MSCI akan terkoreksi dulu. Namun saham lain akan kembali bergerak mengikuti fundamental," ujarnya.
Terkait potensi arus keluar dana asing, Hans memperkirakan outflow mungkin terjadi dalam jangka pendek. Meski demikian, dia optimistis pergerakan pasar akan kembali ke arah fundamental. Dari sisi teknikal, dia menyebut support IHSG berada di level 8.269.
Pandangan senada disampaikan pengamat pasar modal Hendra Wardana. Dia menilai keputusan MSCI yang menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor, tidak menambah bobot saham Indonesia, serta meniadakan rebalancing Februari 2026, langsung menjadi pukulan telak bagi pasar. "Reaksi IHSG yang anjlok tajam mencerminkan kepanikan pasar yang dipicu oleh faktor kepercayaan, bukan semata pelemahan fundamental ekonomi. Investor merespons cepat karena ekspektasi terhadap aliran dana pasif global yang selama ini menopang saham berkapitalisasi besar tiba-tiba tertahan," ujarnya.
Menurut Hendra, MSCI menegaskan bahwa persoalan utama pasar saham Indonesia bukan terletak pada kinerja emiten, melainkan pada transparansi struktur kepemilikan dan keandalan data free float. Meski BEI telah melakukan sejumlah perbaikan, investor global menilai langkah tersebut belum sepenuhnya menjawab kekhawatiran terkait konsentrasi kepemilikan dan potensi transaksi terkoordinasi. Persepsi risiko yang meningkat mendorong investor asing menurunkan eksposur secara cepat, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang IHSG.
Dampak kebijakan pembekuan MSCI juga terasa langsung pada arus dana. Dengan tertahannya kenaikan bobot dan tidak adanya saham baru yang masuk indeks, potensi aliran dana dari ETF dan reksa dana indeks global menjadi terbatas. Saham-saham yang sebelumnya diharapkan memperoleh katalis positif kehilangan daya dorong, sehingga pelaku pasar memilih bersikap lebih defensif. "Kondisi ini mempersempit ruang penguatan IHSG dan memperbesar risiko koreksi lanjutan dalam jangka pendek," lanjut Hendra.
Pasar juga mencermati pernyataan MSCI yang membuka kemungkinan peninjauan ulang aksesibilitas pasar Indonesia jika hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan signifikan. Risiko tersebut dinilai bersifat antisipatif dan mulai diperhitungkan sejak sekarang, sehingga tekanan jual tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif.
Secara teknikal, area 8.300 menjadi support IHSG. Level ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan pasar. "Jika mampu bertahan, peluang stabilisasi masih terbuka melalui akumulasi selektif investor domestik. Namun jika gagal, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi," kata Hendra.
Langkah BEI
Menanggapi situasi tersebut, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad menegaskan, komitmen BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI. "Kami memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia," katanya.
Kautsar menyampaikan, BEI berkomitmen meningkatkan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi free float yang lebih akurat dan andal sesuai praktik terbaik global. Sebagai langkah konkret, BEI telah memublikasikan data free float secara komprehensif melalui situs resmi sejak 2 Januari 2026 dan akan memperbaruinya secara rutin setiap bulan.
"Selanjutnya, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi. Melalui koordinasi yang berkesinambungan ini, kami optimistis dapat terus memperkuat daya saing Pasar Modal Indonesia di tingkat global, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap Pasar Modal nasional," tambahnya. (mim/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji