Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Indonesia dalam Radar? Peneliti BRIN Temukan Jejak Virus Nipah di Sumatra hingga Jawa Namun Tanpa Vaksin dan Mematikan!

Nurul Hidayati • Senin, 2 Februari 2026 | 14:25 WIB
Ilustrasi Virus Nipah
Ilustrasi Virus Nipah

LombokPost - Ancaman Virus Nipah (NiV) di Indonesia bukan lagi sekadar isu luar negeri.

Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, memperingatkan.

Bahwa meski belum ada kasus pada manusia di tanah air, bukti ilmiah menunjukkan virus mematikan ini sudah bersirkulasi di alam liar Indonesia.

Jejak Genom di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan

Hasil riset BRIN mengungkap fakta mengejutkan mengenai keberadaan virus ini pada satwa liar di Indonesia.

Sumatra Utara: Deteksi molekuler melalui metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar mengonfirmasi keberadaan genom Virus Nipah.

Kalimantan Barat: Studi serologis menemukan antibodi Virus Nipah pada 19 persen sampel kelelawar Pteropus vampyrus.

Jawa: Penelitian lanjutan menemukan virus serupa pada kelelawar di wilayah Jawa dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia.

"Kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan tidak bisa diabaikan. Kedekatan habitat satwa dengan pemukiman dan praktik perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover (loncatan) virus," jelas Indi.

Mengapa Nipah Sangat Berbahaya?

Virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dengan reservoir alami kelelawar buah. Virus ini menjadi perhatian serius karena:

Tingkat Kematian Tinggi: Memiliki risiko fatalitas yang sangat besar pada manusia.

Tanpa Vaksin: Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk Nipah. Penanganan hanya bergantung pada perawatan suportif.

Penularan Luas: Bisa menular melalui kontak dengan babi, konsumsi makanan terkontaminasi (seperti buah atau nira yang terkena liur kelelawar), hingga penularan antarmanusia.

Strategi "One Health" dan Kesiapsiagaan Nasional

BRIN menegaskan bahwa penguatan surveilans aktif pada satwa liar dan manusia adalah harga mati. Mengingat populasi babi yang besar di beberapa wilayah dan sanitasi pasar hewan yang masih kurang memadai, potensi penularan lintas spesies tetap tinggi.

"Pendekatan One Health menjadi strategi utama kami, di mana kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan bekerja sama memantau ancaman ini," tambah Indi.

Edukasi Publik sebagai Benteng Pertahanan

Tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. BRIN mengimbau masyarakat untuk:

Menghindari kontak langsung dengan satwa liar, terutama kelelawar.

Tidak mengonsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi (buah bekas gigitan hewan atau nira mentah).

Segera melaporkan jika terjadi kematian hewan ternak secara mendadak.

Penguatan riset dan surveilans yang dilakukan BRIN diharapkan menjadi fondasi kebijakan nasional agar Indonesia lebih siap dan terukur dalam menghadapi potensi ancaman pandemi Virus Nipah di masa depan.

Editor : Kimda Farida
#kelelawar #nipah #Vaksin #BRIN #virus #obat