LombokPost - Ancaman dunia maya kini tidak lagi sekadar menyerang sistem perusahaan besar, melainkan sudah menyasar langsung ke saku dan perangkat pribadi setiap warga.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, memberikan peringatan keras.
Bahwa di era kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber telah menjadi fondasi perlindungan nyawa dan harta benda masyarakat.
Ancaman Tanpa Klik: Zero Click Attack
Dalam Workshop Cybersecurity di Yogyakarta, Nezar mengungkapkan fenomena mengerikan bernama "Zero Click Attack". Jika dulu peretas butuh korban mengklik tautan palsu, kini malware bisa aktif hanya dengan pesan yang masuk ke perangkat.
"Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja. AI mengubah pola serangan menjadi jauh lebih cepat dan masif," tegas Nezar. Ia menambahkan, data dari Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan serangan siber berkembang jauh lebih pesat daripada sistem pertahanannya.
Penipuan Personal: Wajah dan Suara Bisa Ditiru
Lebih jauh, Nezar menyoroti pemanfaatan AI untuk menyerang sisi emosional. Teknologi deepfake memungkinkan pelaku memalsukan wajah dan suara orang terdekat korban secara sangat meyakinkan.
"Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya mereka sedang berbicara dengan orang yang mereka kenal. Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital," ujarnya.
Era Pasca Kuantum: Password Tak Lagi Bermakna
Wamen Nezar juga memperingatkan bahwa kata sandi (password) konvensional yang digunakan masyarakat saat ini semakin rapuh. Dengan kehadiran riset komputasi kuantum, sistem perlindungan lama bisa dijebol dalam hitungan detik. Dunia kini dipaksa bergerak menuju era keamanan Pasca Kuantum.
Langkah Proteksi: Security by Design
Menghadapi ancaman ini, Kementerian Komdigi mendorong pendekatan "Security by Design". Artinya, keamanan harus dibangun sejak awal pengembangan sebuah aplikasi atau sistem, bukan baru diperbaiki setelah terjadi kebocoran data.
"Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan," kata Nezar. Ia mengimbau masyarakat untuk mulai membangun budaya sadar digital, karena perangkat sederhana yang digunakan sehari-hari bisa menjadi pintu masuk bagi para penjahat siber.
Pemerintah berkomitmen untuk memperkuat talenta dan arsitektur keamanan digital guna melindungi privasi, identitas, dan aset ekonomi seluruh warga Indonesia di tengah gempuran teknologi AI.
Editor : Pujo Nugroho