LombokPost--Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,5 yang mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, Jumat (6/2) dini hari pukul 01.06 WIB, dikonfirmasi sebagai gempa jenis Megathrust.
Informasi ini disampaikan oleh Pakar Gempa BMKG, Daryono Prawiro Sekti melalui akun media sosial X-nya @DaryonoBMKG.
"Gempa Pacitan tadi pagi jenis gempa Megathrust, yang tergambar dari mekanisme sumbernya yang berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal," tulis Daryono.
Ia menyebutkan bahwa patut disyukuri gempa ini tidak mencapai magnitudo 7,0.
"Jika itu terjadi dapat berpotensi tsunami," jelasnya.
Baca Juga: Pemda KLU Pastikan Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas
Mengapa Pacitan Rawan Tsunami Historis?
Dalam penjelasan lebih lanjut, Daryono menguraikan mengapa kawasan Pacitan sering muncul dalam catatan tsunami historis. Beberapa faktor penyebabnya adalah:
-
Lokasinya yang berhadapan langsung dengan zona Megathrust Jawa.
-
Morfologi pantainya yang banyak teluk dan pantai sempit, yang dapat memperkuat (amplifikasi) gelombang tsunami.
-
Diduga berada di atas segmen slab landai, yang membuat kopling subduksi kuat dan memicu tsunami pada gempa besar.
Baca Juga: Dewan Berharap KPBU APJ Dijalankan sesuai Regulasi dan Junjung Prinsip Transparansi
Kondisi ini, menurutnya, tercermin dalam catatan tsunami yang pernah terjadi di wilayah tersebut pada tahun 1840 dan 1859.
Data dan Peringatan BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah merilis data awal gempa ini.
Pusat gempa terletak pada koordinat 8.98 Lintang Selatan, 111.17 Bujur Timur, atau tepatnya 89 km tenggara Pacitan, Jatim, pada kedalaman 10 kilometer.
BMKG juga memberikan disclaimer bahwa informasi yang dirilis mengutamakan kecepatan untuk peringatan dini.
"Hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis pernyataan resmi tersebut.
Baca Juga: AS Diminta Hati-Hati Pasok Senjata ke Taiwan, Trump Dijadwalkan ke Tiongkok pada April
Kejadian ini mengingatkan masyarakat akan potensi gempa megathrust di selatan Jawa dan pentingnya kesiapsiagaan, meskipun pada kejadian kali ini tidak sampai memicu peringatan tsunami.
Editor : Kimda Farida