LombokPost - Guncangan magnitudo 6,4 yang mengagetkan warga Pacitan pada Jumat (6/2) dini hari bukan sekadar fenomena alam biasa.
Di balik getaran hebat yang merusak rumah warga tersebut, tersembunyi risiko geologi yang jauh lebih besar.
Pakar kegempaan Daryono Perwira Sakti, memberikan catatan krusial mengenai "takdir" geografis Pacitan yang berada di lintasan zona merah tsunami.
Melalui ulasan di laman media sosialnya, Daryono membedah mengapa wilayah Pacitan dan sekitarnya sering muncul dalam catatan tsunami historis.
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang membuat kawasan ini menjadi "langganan" risiko tsunami besar.
Berhadapan Langsung dengan 'Raksasa' Megathrust Pacitan berada tepat di depan zona subduksi lempeng atau yang populer dikenal sebagai Megathrust Jawa.
Zona ini merupakan pertemuan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia.
Penumpukan energi di wilayah ini berpotensi memicu gempa dahsyat yang mampu menggerakkan kolom air laut secara masif.
Efek "Jebakan" Teluk dan Pantai Sempit Secara morfologi, garis pantai Pacitan didominasi oleh banyak teluk dan pantai yang sempit. Kondisi ini justru berbahaya saat tsunami terjadi.
"Banyaknya teluk dan pantai sempit ini memicu terjadinya amplifikasi atau penguatan gelombang. Energi air yang masuk ke ruang sempit akan melompat naik lebih tinggi dan merusak," urai Daryono.
Teka-teki Slab Landai dan Memori Kelam 1840-1859 Analisis yang paling mengkhawatirkan adalah dugaan bahwa Pacitan berada di atas segmen slab (lempeng) yang landai.
Kondisi ini menyebabkan coupling atau kuncian subduksi menjadi sangat kuat. Jika kuncian ini lepas secara mendadak, gempa raksasa tak terelakkan.
Sejarah mencatat, kengerian ini pernah terjadi pada tahun 1840 dan 1859. Kala itu, tsunami besar menerjang pesisir selatan Jawa, termasuk Pacitan, menyisakan jejak kerusakan yang melegenda dalam catatan sejarah kegempaan nasional.
Mitigasi Adalah Kunci Daryono mengingatkan bahwa gempa M 6,4 kali ini harus menjadi pengingat (wake up call) bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Mengingat statusnya yang tidak berpotensi tsunami kali ini, bukan berarti kewaspadaan boleh kendur.
"Masyarakat harus paham bahwa mereka hidup di daerah produktif gempa. Pengetahuan tentang evakuasi mandiri dan penguatan konstruksi bangunan tahan gempa adalah harga mati untuk meminimalisir korban di masa depan," pungkasnya.
Hingga saat ini, BPBD Pacitan masih terus berpatroli guna memastikan kesiapan jalur evakuasi tetap steril dan berfungsi baik jika sewaktu-waktu "Raksasa Selatan" kembali terbangun.
Editor : Kimda Farida