LombokPost - Pemulihan infrastruktur di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi salah satu prioritas Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo. Kemarin (10/2), dalam kunjungannya ke kantor Jawa Pos di Surabaya, Menteri Dody menjelaskan sejumlah progres pekerjaannya.
Sampai hari ini, apakah program-program kementerian PU untuk mengatasi dampak bencana sudah melebihi target?
Enggak, enggak bisa dikatakan begitu. Kalau soal penanganan bencana, kita selalu di bawah target, namanya juga manusia ya. Detik ini, hari ini saya maunya yang terkena bencana itu beres semua. Tapi, itu ekspektasi manusia. Menurut saya, apapun yang kita kerjakan hari ini masih kurang bagi yang terkena bencana, tapi tetap kita berprogres, secara positif ada tolak ukur. Alhamdulillah sekarang sudah ada satgas bencana.
Apa bedanya setelah ada satgas bencana?
Dengan ada satgas, perkembangan akan dimonitor setiap hari, tiap bulan. Kementerian PU harus memberikan laporan progres kepada kepala satgas itu.
Besok rencana ada rapat Satgas Bencana secara live di Kemendagri.
Tapi secara progress, Insya Allah masih on progres, tapi memang belum cukup cepat memenuhi ekspektasi masyarakat yang terdampak bencana.
Apa fokus penanganan bencana saat ini?
Pembangunan di jalan nasional sudah beres semua. Kita sudah melangkah ke arah jalan dan jembatan daerah.
Menyambung akses antarkecamatan, antardesa. Titik itu sekarang kita lagi kejar supaya tersambung. Ada juga jembatan putus.
Sementara waktu kita bikin jembatan gantung. Masyarakat dan siswa yang selama beberapa waktu ini kesulitan menyeberang untuk menuju ke sekolah, kini bisa lebih mudah.
Menjelang Ramadan kita upayakan bisa cepat membangun beberapa jembatan.
Bagaimana dengan penanganan sungai?
Baca Juga: Pemerintah Kembalikan TKD Rp 10,6 Triliun, Percepatan Pemulihan Aceh, Sumut, dan Sumbar
Fokusnya penanganan hulu sungai. Hulu ini ditata, lalu berikan tanaman keras di situ. Walau ini bukan tupoksi kita. Saya kebanyakan mengejar memperbaiki muara.
Saya malah berpikir melakukan terobosan penanganan hulu sungai.
Kebanyakan sedimentasi itu, saya minta ditangani dengan melakukan ledakan terukur. Tapi, saya nggak mau biota laut terdampak.
Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa akibat bencana, saya kira perlu ada early warning system. Saat ini di Sumbar sudah ada, tapi di Aceh dan Sumut belum.
Saya kira di dua daerah itu perlu juga ada early warning system.
Kunjungan Perdana ke Jawa Pos
Menteri Dody tiba di Graha Pena Surabaya sekitar pukul 14.30 WIB.
Dia disambut oleh Direktur Utama Jawa Pos Koran Leak Kustiyo, Direktur Bisnis David Arya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos TV Guntur Nara Persada, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos Koran Andrianto Wahyudiono, dan sejumlah awak redaksi.
Pertemuan berlangsung gayeng. Dody merasa sudah akrab dengan Jawa Pos. Sebab, dia memang kelahiran Mojokerto, Jawa Timur.
’’Saya ini orang Jatim. Sering ke Jatim meski kantor di Jakarta,’’ katanya.
Dia merasa senang bisa berkunjung ke salah satu koran tertua dan terbesar di Indonesia.
’’Ini kunjungan pertama saja,’’ lanjutnya.
Sebelum berkunjung ke Jawa Pos, Dody bertemu dengan Sekdaprov Jatim Adhy Karyono.
Salah satu yang dibahas adalah rencana pembangunan flyover di Taman Pelangi, Surabaya. Proyek itu akan dikerjakan pada tahun ini.
’’Nah, setelah bertemu dengan Pak Sekda, sekalian saja saya main ke sini (kantor Jawa Pos, Red). Sangat keren, semua media ada di sini. Ada koran, TV, segala macem online. Keren. Keren,’’ ujar Dody. (idr/oni/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida