Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Sekadar Formalitas! Terungkap Alasan Mengapa Psikotes SIM Sangat Menentukan Nyawa Anda di Jalan Raya

Nurul Hidayati • Jumat, 20 Februari 2026 | 20:10 WIB
Ilustrasi. Mental Pengemudi Jadi Kunci: Mengapa Psikotes SIM Jauh Lebih Penting dari Sekadar Prosedur?
Ilustrasi. Mental Pengemudi Jadi Kunci: Mengapa Psikotes SIM Jauh Lebih Penting dari Sekadar Prosedur?

LombokPost - Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap psikotes dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) hanyalah prosedur administratif tambahan.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang kontras.

Secara ilmiah, psikotes adalah "benteng" terakhir untuk memastikan kesiapan mental calon pengemudi sebelum mereka dilepas ke ruang publik yang kompleks: jalan raya.

Psikolog Eka Indah Nurmawati menekankan bahwa mengemudi bukanlah sekadar keterampilan teknis menginjak pedal atau memutar kemudi.

"Berkendara adalah aktivitas kompleks yang melibatkan konsentrasi, pengendalian emosi, dan interaksi sosial," ujarnya.

Faktor Manusia: Penyebab 80 Persen Kecelakaan

Data Korps Lalu Lintas Polri menegaskan urgensi ini: lebih dari 80 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia. Pelanggaran aturan dan perilaku tidak hati-hati menjadi pemicu utama hilangnya nyawa, yang mirisnya didominasi oleh usia produktif.

3 Dimensi Utama yang Diuji dalam Psikotes

Psikotes SIM dirancang secara khusus untuk mengukur tiga aspek krusial yang tidak bisa dilihat hanya dengan tes fisik.

Aspek Kognitif (Proses Informasi): Menilai konsentrasi dan kecepatan pengambilan keputusan. Di jalanan yang dinamis, keterlambatan berpikir dalam hitungan detik bisa berakibat fatal.

Aspek Psikomotor (Kecepatan Reaksi): Mengukur koordinasi mata dan gerak tubuh. Hal ini sangat vital saat pengemudi menghadapi situasi darurat seperti pengereman mendadak.

Aspek Kepribadian (Stabilitas Emosi): Menilai apakah pengemudi memiliki sifat impulsif, agresif, atau justru prososial. "Jalan raya adalah ruang sosial. Jika pengemudi egois dan mudah marah, risiko kecelakaan meningkat tajam," tambah Eka.

Skrining Preventif demi Keselamatan Bersama

Psikotes berfungsi sebagai bentuk pencegahan (preventif). Dengan jumlah kendaraan yang terus melonjak di Indonesia, memastikan setiap pemegang SIM memiliki standar mental minimal adalah keharusan.

Proses ini melibatkan tenaga profesional psikologi untuk menjamin akuntabilitas dan objektivitas hasil tes menggunakan instrumen yang terstandar.

Tujuannya satu: membangun budaya berkendara yang lebih dewasa, di mana pengemudi tidak hanya hebat dalam teknis, tetapi juga stabil secara emosi dan empatik terhadap pengguna jalan lain.

Pada akhirnya, keselamatan di jalan raya adalah tanggung jawab kolektif.

Psikotes SIM adalah investasi jangka panjang untuk menekan angka kecelakaan dan menciptakan lingkungan lalu lintas yang lebih manusiawi.

Editor : Kimda Farida
#psikotes #pengendalian emosi #pengemudi #jalan raya #sim