Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ambisi Indonesia 2045: Tak Sekadar Mimpi, Ekonomi Hijau Siap Sulap Limbah Jadi Rupiah!

Nurul Hidayati • Jumat, 6 Maret 2026 | 16:43 WIB

Airlangga Hartarto
Airlangga Hartarto

LombokPost - Pemerintah Indonesia semakin serius menatap visi Indonesia Maju 2045. Strategi utamanya bukan lagi sekadar pertumbuhan angka, melainkan transisi total menuju Ekonomi Hijau.

Pembangunan rendah karbon kini diposisikan sebagai tulang punggung untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 mendatang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa transformasi ini merupakan "pintu keluar" Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

"Ekonomi hijau telah masuk dalam RPJMN 2020-2024 dengan tiga prioritas: kualitas lingkungan, ketahanan iklim, dan pembangunan rendah karbon," ujar Airlangga.

Investasi Jumbo dan 'Harta Karun' Karbon

Langkah ini memang tidak murah. Untuk memenuhi komitmen Nationally Determined Contribution (NDC), Indonesia setidaknya membutuhkan dana fantastis sebesar Rp3.799 Triliun.

Saat ini, rata-rata 4,1 persen APBN telah dialokasikan untuk perubahan iklim, di mana mayoritas (88,1 persen) terserap ke infrastruktur hijau.

Namun, di balik biaya besar tersebut, ada potensi cuan yang menggiurkan.

Indonesia diprediksi memiliki potensi pendapatan sebesar USD 565,9 miliar (sekitar Rp8.000 triliun) dari perdagangan karbon yang dihasilkan oleh hutan, mangrove, dan gambut yang luas.

 Baca Juga: NTB dan Inggris Kolaborasi Wujudkan Pembangunan Rendah Karbon dan Ekonomi Hijau, Gubernur Ingin NTB Jadi Contoh Transformasi Menuju Energi Bersih

Strategi Lintas Sektor

Pemerintah telah memetakan lima sektor penyumbang emisi utama: kehutanan, pertanian, energi/transportasi, limbah, dan industri. Beberapa kebijakan radikal pun mulai disiapkan, antara lain:

Sektor Energi: Peralihan ke kendaraan listrik hingga 95 persen dan penggunaan EBT mendekati 100 persen pada 2060.

Sektor Fiskal: Penerapan pajak karbon dan penghapusan subsidi energi secara bertahap hingga 2030.

Sektor Lahan: Restorasi gambut, rehabilitasi mangrove, dan penghentian deforestasi.

Tantangan 'Green Jobs'

Meski realisasi penurunan emisi karbon Indonesia selama 2019-2021 selalu melampaui target, tantangan besar masih menghadang.

Selain kebutuhan investasi, masyarakat perlu disiapkan untuk bermigrasi ke lapangan kerja hijau (green jobs) dan mulai menggunakan produk yang efisien energi.

Keberhasilan program mandatori biodiesel B30 yang mampu memangkas emisi hingga 23,3 juta ton CO2e (carbon dioxyde equivalent) menjadi bukti nyata bahwa transisi ini tak hanya menjaga bumi, tapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan menciptakan lapangan kerja baru.

Editor : Pujo Nugroho
#emisi #esdm #karbon #Ekonomi Hijau