LombokPost - Tren bersepeda bukan lagi sekadar hobi akhir pekan bagi warga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Laporan perdana Strava Metro: Commute Report 2025 yang baru saja dirilis mengungkap fakta menarik mengenai pola mobilitas aktif masyarakat di wilayah Bumi Gora.
Secara global, Strava mencatat total jarak tempuh komuter (perjalanan rumah-kantor) mencapai 885,1 juta kilometer. Menariknya, NTB menyumbang angka yang signifikan dalam statistik perjalanan aktif ini.
Baca Juga: Pemkot Mataram Wacanakan Pejabat Bersepeda ke Kantor untuk Hemat BBM
Geliat Komuter Sepeda di NTB
Berdasarkan data anonim yang dihimpun Strava Metro, para pesepeda di NTB tercatat telah menempuh total jarak komuter sejauh 90.165 kilometer sepanjang tahun 2025. Dengan rata-rata jarak tempuh harian mencapai 4 kilometer per perjalanan, bersepeda kini menjadi solusi mobilitas praktis bagi warga, terutama di kawasan perkotaan seperti Mataram.
Data tersebut juga mengungkap waktu favorit warga NTB untuk mengayuh pedal. Pukul 05.00 sore menjadi waktu mulai terpopuler, yang mengindikasikan tingginya aktivitas bersepeda saat jam pulang kantor atau aktivitas sore hari.
Baca Juga: Lupakan Mood Booster Instan! Bersepeda Ternyata Memicu Hormon Bahagia Alami dan Meregenerasi Otak
Millennial Paling Dominan, Gender Merata
Berbeda dengan tren global yang didominasi generasi Baby Boomer, di NTB geliat bersepeda justru dipimpin oleh generasi Millennial dengan persentase 37 persen. Disusul ketat oleh Gen X (35 persen), serta Gen Z dan Boomer yang masing-masing mencatatkan angka 33 persen.
Dari sisi gender, partisipasi pesepeda di NTB tergolong cukup inklusif. Pesepeda laki-laki tercatat sebesar 37 persen, sementara pesepeda perempuan membuntuti dengan angka 32 persen. Hal ini menunjukkan bahwa bersepeda mulai dianggap sebagai pilihan transportasi yang aman dan nyaman bagi semua kalangan di NTB.
Data untuk Perbaikan Infrastruktur
Wakil Presiden Komunikasi dan Dampak Sosial Strava Brian Bell menjelaskan bahwa Strava Metro hadir untuk membantu para perencana kota memahami pola pergerakan pejalan kaki dan pesepeda.
Data anonim ini telah digunakan oleh lebih dari 4.000 mitra global untuk membangun infrastruktur yang lebih baik.
"Melalui laporan ini, terlihat jelas betapa kuatnya dampak aktivitas komuter. Kami mengajak lebih banyak orang untuk merekam rutinitas mereka guna membantu mewujudkan pengalaman berkomuter yang lebih aman bagi semua," ujar Bell.
Peluang bagi Tata Kota Mataram
Munculnya data spesifik untuk wilayah NTB ini menjadi peluang emas bagi pemerintah daerah, khususnya Kota Mataram, untuk mengevaluasi ketersediaan jalur sepeda. Dengan total jarak tempuh yang mencapai puluhan ribu kilometer, penyediaan fasilitas pendukung seperti jalur khusus, parkir sepeda yang aman, hingga integrasi dengan ruang publik seperti Teras Udayana menjadi semakin relevan untuk mendukung visi kota yang berkelanjutan.
Editor : Redaksi